Sabtu, 29 Januari 2011

GREEN MARKETING : KONSEP ALTERNATIF DALAM PEMASARAN

GREEN MARKETING : KONSEP ALTERNATIF DALAM PEMASARAN
By
Abror
Abstract
Green marketing is an alternative concept in marketing. Every marketer’s must concern about this, because of the situation has been change. Customer now becoming smart and care about environmental issues. When the marketers want to sell product to the market, they should be aware with this. The marketers permitted to use one of two green marketing approaches, Defensive or Assertive approach, but if the marketers  want to get a sustainable competitive advantage, they had better to use assertive approach. Green Marketing still has some constraints or problems in implementation, the marketer must give good education to the customers and make a good communication with them.

Key Word:  Green Marketing, environmental marketing, ecological marketing
A.  PENDAHULUAN
Lingkungan pemasar mengalami perubahan yang sangat radikal, seperti perubahan teknologi, globalisasi dan peraturan pemerintah. Kondisi ini akan mendorong timbulnya perilaku baru dari konsumen yang tercermin pada kebutuhan dan keinginannya. Agar mampu memenangkan persaingan, pemasar harus cepat bereaksi terhadap perubahan permintaan pelanggan dan memuaskan semua kebutuhan dan keinginan mereka, karena pada dasarnya pemasaran berhulu dan bermuara pada pelanggan.
            Akhir-akhir ini kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup mulai meningkat setelah melihat banyaknya kerusakan lingkungan yang terjadi. Organisasi pemerhati lingkungan mulai bermunculan dan mengkritisi aktivitas yang dilakukan oleh pemasar. Hal ini mempengaruhi  konsumen sehingga mereka mulai menaruh perhatian pada isu lingkungan hidup lebih dari pada sebelumnya. Konsumen menjadi sangat perhatian terhadap keterbatasan sumber daya yang ada di bumi, kesehatan dan perusakan lingkungan, sehingga mulai melirik produk yang lebih bertanggungjawab kepada lingkungan. Sejalan dengan itu, pemerintah  mulai mengeluarkan peraturan yang berhubungan dengan lingkungan.
Perubahan ini menimbulkan tantangan yang harus dijawab bagi pemasar berupa peluang atau ancaman. Pemasar yang pintar akan memandang isu lingkungan hidup sebagai peluang untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen, bukan ancaman. Pemasar akan mengaplikasikan isu lingkungan dalam aktivitas pemasaran yang mereka lakukan, sehingga menimbulkan fenomena baru dalam dunia pemasaran berupa konsep Green Marketing.

B.  PENGERTIAN GREEN MARKETING
Melaksanakan konsep green marketing dalam suatu perusahaan berarti memasukkan pertimbangan lingkungan dalam semua dimensi aktivitas pemasaran yang dilakukan perusahaan (Crane, 2000). Dalam literatur yang ada, konsep green marketing merupakan variasi terminologi dari environmental marketing, ecological marketing, green marketing, sustainable marketing, greener marketing  (Prakash, 2002), dan societal marketing (Kotler 2003).
Sebenarnya konsep green marketing bukanlah hal yang baru. Konsep ini sudah diperkenalkan oleh Bell dan Emeri, serta Feldman sejak tahun 1971, yang menyatakan konsep pemasaran telah salah penempatan, karena hanya sebatas memuaskan keinginan konsumen tapi dengan mengabaikan kepentingan masyarakat dan lingkungan dalam jangka panjang (MCDaniel dan Rylander, 1993).
            Pada tahun 1976 Henion dan Kinnear memperkenalkan ecological marketing sebagai ilmu yang mempelajari dampak positif dan negative dari aktivitas pemasaran pada polusi, penipisan energi dan dan penipisan sumberdaya nonenergi (Polonsky, 1994). Pengertian ini digunakan dalam workshop yang diadakan oleh The American Marketing association (AMA) yang melibatkan akademisi, praktisi dan pembuat keputusan public.
Kotler pada tahun 1976 kemudian memperkenalkan konsep societal marketing untuk memenuhi tanggung jawab sosial pemasar yang terdiri dari empat pertimbangan dalam pengambilan keputusan pemasaran yaitu : keinginan konsumen, kepentingan konsumen, persyaratan perusahaan, dan kesejahteraan lingkungan sosial. (MCDaniel dan Rylander, 1993). Konsep ini menyatakan bahwa tugas organisasi adalah menentukan kebutuhan, keinginan, dan kepentingan dari pasar sasaran, dan memberikan kepuasan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan pesaing  dengan jalan melindungi atau meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyrarakat ( Kotler, 2003)
            Peattie pada tahun 1995 mendefinisikan green marketing sebagai proses manajemen holistik yang bertanggung jawab untuk mengidentifikasi, mengantisipasi dan memuaskan keinginan konsumen dan masyarakat dengan jalan yang menguntungkan dan berkelanjutan (Karna, Hansen dan Juslin 2001).
Sementara Polonsky (1994), menyatakan bahwa green marketing merupakan seluruh aktivitas yang didesain untuk menghasilkan dan memfasilitasi semua perubahan yang diharapkan dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia, dengan dampak minimal pada perusakan lingkungan alam. Hal ini terjadi akibat pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia memiliki potensi untuk menimbulkan dampak negatif pada lingkungan alam.
Dari pengertian-pengertian ini dapat disimpulkan bahwa green marketing mengandung beberapa poin penting yaitu : pertama organisasi atau perusahaan melalui aktivitas pemasarannya berusaha memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen, kedua aktivitas pemasaran ini dilaksanakan dengan cara yang lebih efisien dan efektif dibandingkan dengan pesaing, dan ketiga aktivitas ini memberikan dampak minimal pada perusakan lingkungan alam sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat. 
           
C.  PENTINGNYA GREEN MARKETING
Green marketing merupakan konsep yang makin menarik bagi akademisi, praktisi, pembuat aturan publik, konsumen serta masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Alasan mengapa konsep ini menjadi sangat penting untuk diaplikasikan oleh perusahaan merupakan alasan sederhana yang sudah diketahui sejak dahulu, yaitu keterbatasan sumberdaya.
Dalam literatur ekonomi dinyatakan, bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia memenuhi kebutuhan dan keinginannya dengan alat pemenuhan kebutuhan atau sumber daya yang terbatas. Sumberdaya yang ada didunia, baik sumberdaya alam ataupun bukan, jumlahnya terbatas. Eksploitasi sumberdaya yang semena-mena dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang pada akhirnya menurunkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat.
Dari sudut pandang pemasar sendiri, keterbatasan sumberdaya membuat perusahaan mencari cara baru untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Konsep green marketing merupakan suatu alternatif yang dapat digunakan pemasar dalam melaksanakan aktivitas pemasaran dengan memanfaatkan sumberdaya yang terbatas secara efisien dan efektif.

 D.  FAKTOR PENDORONG GREEN MARKETING
Menurut Bansal dan Kendal (2000) faktor pendorong perusahaan untuk lebih memperhatikan lingkungan adalah peraturan pemerintah (legislation), tekanan stakeholder (stakeholder pressures), kesempatan ekonomi (economic opportunities), dan motif etis (ethical motives).
Sementara menurut Polonsky (1994) ada lima alasan bagi organisasi atau perusahaan untuk menerapkan konsep green marketing. Pertama organisasi dapat menggunakan konsep green marketing untuk memanfaatkan peluang dalam mencapai tujuannya. Kedua organisasi percaya bahwa mereka memiliki kewajiban moral untuk lebih bertanggungjawab secara sosial. Ketiga Badan pemerintah melalui peraturan yang dikeluarkannya memaksa perusahaan untuk lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Keempat aktivitas lingkungan yang dilakukan pesaing memaksa perusahaan untuk merubah aktivitas pemasaran lingkungan mereka. Terakhir adalah factor biaya yang diasosiasikan dengan pemborosan pembuangan, atau mengurangi penggunaan material yang membuat perusahaan merobah perilaku mereka.

1.  Faktor Peluang
Meningkatnya kesadaran konsumen terhadap lingkungan alam menimbulkan perubahan dalam perilaku pembelian mereka. Konsumen menjadi lebih sensitif dalam pemilihan produk yang akan mereka konsumsi. Mereka akan memilih produk  ramah lingkungan yang ditawarkan oleh pemasar.
Konsumen yang sangat menyadari arti pentingnya lingkungan alam bahkan mau membeli pada harga premium, tentu saja dengan tidak mengabaikan kualitas. Sehingga pemasar menganggap hal ini merupakan peluang yang baik untuk memenangkan persaingan dan mencapai tujuan perusahaan. Sebagai contoh McDonald menukar kemasan masakan kerangnya dengan kertas lilin (waxed paper) karena meningkatnya perhatian konsumen terhadap produksi polisterin dan penipisan ozon.
Xerox memperkenalkan kertas fotocopy berkualitas tinggi dari proses daur ulang untuk memenuhi keinginan konsumen terhadap perusakan lingkungan yang seminimal mungkin. Perusahaan pengalengan Tuna memodifikasi tekhnik penangkapan ikan mereka karena meningkatnya perhatian masyarakat dan konsumen terhadap kematian lumba-lumba.

2.  Faktor Tanggung Jawab Sosial
Banyak perusahaan yang mulai menyadari bahwa mereka sendiri merupakan bagian dari komunitas yang luas  dan untuk itu mereka harus memiliki perhatian terhadap lingkungan. Mereka percaya bahwa tujuan mereka untuk menjaga kelestarian lngkungan akan sejalan dengan tujuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Sebagai hasilnya isu lingkungan akan terintegrasi dengan budaya perusahaan secara keseluruhan.
Perusahaan dalam hal ini bisa memilih dua alternatif perspektif yang akan digunakannyan. Pertama perusahaan mengkomunikasikan kepedulian mereka terhadap lingkungan hidup kepada konsumen dan masyarakat sebagai alat pemasaran. Kedua perusahaan bertanggung jawab pada lingkungan hidup tanpa mempromosikannya. Sebagai contoh Bodyshop dengan gencar mempromosikan bahwa mereka bertanggungjawab terhadap lingkungan dengan sedapat mungkin menggunakan sayuran sebagai bahan dasar kosmetiknya dibandingkan penggunaan hewan, tidak menggunakan binatang untuk menguji produk akhirnya, menghargai lingkungan, menggunakan bahan dasar yang alami serta konsumen dapat membeli sesuai dengan kuantitas yang mereka inginkan dan menggunakan kemasan isi ulang. Bodyshop menggunakan kepeduliannya terhadap lingkungan sebagai competitive advantage dimana filosofi dari kepedulian terhadap lingkungan tercermin pada budaya perusahaan. Sementara Coca-cola melakukan investasi dalam jumlah yang besar pada aktivitas daur ulang, dan memodifikasi kemasannya untuk meminimalisasi dampak terhadap lingkungan  tanpa mengkomunikasikan dan menggunakanya sebagai alat pemasaran.

3.  Faktor Tekanan Pemerintah
Sehubungan dengan seluruh aktivitas pemasaran yang dilaksanakan perusahaan, pemerintah berusaha melindungi konsumen dan masyarakat, melalui peraturan yang ditetapkan. Peraturan pemerintah ini didesain untuk melindungi konsumen dengan jalan mengurangi produksi  produk yang merusak lingkungan, mengubah perilaku konsumen dan industri dalam penggunaan atau mengkonsumsi produk yang merusak lingkungan, dan meyakinkan konsumen kalau mereka memiliki kemampuan untuk menilai produk terkait dengan pemeliharaan lingkungan hidup. Peraturan ini mengimplikasikan penerapan konsep green marketing bagi perusahaan.
Perusahaan akan berusaha mematuhi peraturan yang ditetapkan pemerintah untuk tetep bertahan dalam bisnis. Peraturan mengenai lingkungan hidup di Indonesia, didasarkan pada Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup no 23 tahun 1997, serta Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 4 tahun 2001 tentang pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. Bagi pihak yang melakukan pelanggaran dapat dikenakan sanksi.

4. Faktor Persaingan
Alasan utama lainnya untuk melaksanakan konsep green marketing adalah untuk menjaga posisi perusahaan dalam persaingan. Perusahaan mulai melihat pesaing mempromosikan perilaku yang ramah lingkungan, dan ini bisa membahayakan kedudukan perusahaan dalam persaingan. Oleh sebab itu, perusahaan berusaha untuk menyamai atau bahkan melebihi pesaing dalam menerapkan konsep green marketing. Dalam hal lain tekanan persaingan menyebabkan beberapa perusahaan memodifikasi dan mengurangi perilaku yang merusak lingkungan.

5.  Faktor Biaya atau Keuntungan
Perusahaan juga menggunakan konsep green marketing untuk dapat mengurangi biaya dan atau meningkatkan kemampuannya dalam menghasilkan laba. Perusahaan yang dapat mengurangi limbah yang dihasilkan dari proses industrinya bisa menghemat biaya. Biasanya minimalisasi produk sampingan dilakukan dengan jalan menguji kembali proses produksi yang dilakukan. Hasilnya sering juga meningkatkan keefektifan proses produksi itu sendiri. Sehingga terdapat penghematan biaya berganda yaitu mengurangi limbah dan menghemat material.
Dalam beberapa situasi, perusahaan dapat mencari pasar untuk produk sampingan atau pembuangan yang mereka hasilkan, sehingga dapat meningkatkan pendapatan perusahaan. Selain itu isu green marketing dapat mendorong berkembangnya industri baru. Hal ini bisa terjadi melalui dua cara, pertama tumbuhnya perusahaan yang mengembangkan teknologi untuk mengurangi pemborosan dan menjualnya pada perusahaan lain. Kedua berkembangnya industri daur ulang dan pembuangan.

E.  PENDEKATAN PERUSAHAAN DALAM GREEN MARKETING
Menurut McDaniel dan Rylander (1993) terdapat dua pendekatan dasar dalam green marketing yaitu defensive atau reactionary approach dan assertive  atau aggressive strategy.

1.  Pendekatan Defensif
Pendekatan defensif merupakan pendekatan dimana perusahaan hanya melakukan konsep green marketing dalam proporsi yang paling minimal untuk menghindari konsekuensi negatif yang bisa saja dihadapi perusahaan. Pendekatan inilah yang paling banyak digunakan oleh perusahaan yang mengadopsi konsep green marketing saat ini.
Ada tiga tipe  pendekatan defensif yang lazim digunakan perusahaan. Pertama perusahan hanya memenuhi standar minimum dari peraturan pemerintah terhadap lingkungan  untuk menghindari sanksi seperti pembayaran pajak yang lebih tinggi atau denda. Kedua adalah perusahaan akan memenuhi standar minimum kepedulian terhadap lingkungan guna menghindari pemboikotan produk atau perusahaan oleh konsumen. Terakhir dari tipe pendekatan defensif adalah perusahaan yang bereaksi terhadap perubahan perilaku kompetitor pada lingkungan, dan mecoba meniru perilaku ini, namun dalam pelaksanaannya masih kurang dari yang seharusnya dapat mereka lakukan.
Strategi ini pada dasarnya tidak dapat menghasilkan peningkatan yang signifikan terhadap penerimaan pasar. Image perusahaan dimata konsumen tidak akan lebih baik dibandingkan pesaing, sebab konsumen mengetahui bahwa usaha perusahaan untuk peduli terhadap lingkungan masih dalam taraf yang rendah. Secara umum perusahaan yang masih belum memenuhi standar-standar lingkungan hidup tidak dapat menjadikan dimensi ini sebagai competitive advantage, dan lebih rentan terhadap reaksi negatif dari pelanggan atau pemerintah. Marc Gobe, direktur kreatif pada Cato Gobe, meramalkan bahwa perusahaan yang tidak memperhatikan isu lingkungan akan menghadapi penurunan pangsa pasar ( Miller, 1990)

2. Pendekatan Assertif
Pendekatan assertif merupakan pendekatan dimana perusahaan merupakan pelopor atau first mover dalam penerapan konsep green marketing. Aktivitas pemasaran yang dilakukannya melebihi dari apa yang syaratkan oleh pemerintah atau yang diminta oleh konsumen. Pendekatan ini merupakan peluang yang baik untuk mendapatkan sustainable competitive advantage.
            Perusahaan yang menggunakan pendekatan assertif berarti lebih mengutamakan respon terhadap permintaan konsumen, dibandingkan untuk memenuhi peraturan pemerintah. Menurut Wells (McDaniel dan Rylander, 2001) pendekatan green marketing yang merespon permintaan pasar adalah perusahaan yang berorientasi pada konsumen dan profit driven.
            First mover atau pelopor memiliki beberapa keunggulan penting dalam green marketing. Pertama meningkatnya image perusahaan dimata konsumen. Jika perusahaan dapat mempertahankan image ini, maka akan tercipta sustainable competitive advantage. Image yang baik merupakan kunci dalam meningkatkan profitabilitas. Perusahaan lain yang mengikuti langkah first mover akan dianggap sebagai imitator yang hanya berada dibelakang perusahaan pelopor. Konsumen bisa jadi bersikap skeptis terhadap perusahaan yang terlambat dalam memenuhi keinginan mereka.
            Keunggulan yang kedua adalah dapat menghindari pemeriksaan dan mentaati peraturan dengan melakukan aktivitas green marketing melebihi yang disyaratkan pemerintah. Agen pemerintahan tidak akan melakukan penyelidikan atau pengawasan terhadap perusahaan yang melaksanakan tindakan peduli lingkungan melebihi standar yang ditetapkan.
            Sebagai tambahan perusahaan yang menggunakan pendekatan assertif terikat pada perencanaan jangka panjang terhadap lingkungan. Hal ini membuat perusahaan lebih fokus pada tujuan jangka panjang yang sangat penting dalam perusahaan. Sementara perusahaan lain mungkin mengalami kesulitan dalam menentukan tujuan jangka panjangnya karena terfokus pada tujuan jangka pendek.

F.     GREEN MARKETING DAN PENGEMBANGAN STRATEGI PEMASARAN

Memasukkan green marketing pada proses perencanaan strategi seringkali menimbulkan permasalahan dalam perusahaan, karena kebijakan terhadap lingkungan hanya diperlakukan sebagai tambahan bukan diintegrasikan secara penuh dalam sebuah perencanaan strategis. Perusahaan seharusnya mendesain sebuah proses perencanaanl pemasaran strategis dengan green marketing sebagai bagian yang terintegrasi secara penuh. Gambar 1 menggambarkan model untuk melaksanakannya


Gambar 1
 


















Sumber : McDaniel and Rylander 1993
Untuk mempermudah dan menfasilitasi proses ini dapat dilakukan sepuluh langkah berikut (McDaniel and Rylander 1993) :
1.      Mengembangkan sebuah kebijakan perusahan terhadap lingkungan
2.      Membangun kepemimpinan lingkungan pada level atas organisasi
3.      Menyewa atau mengembangkan pengacara lingkungan pada perusahaan
4.      Melakukan pendidikan dan pelatihan seluruh karyawan organisasi untuk menciptakan kesadatran terhadap lingkungan
5.      Menjalin komunikasi yang aktif dengan kelompok lingkungan hidup diluar perusahaan dan agen pemerintahan
6.      Mengembangkan program tindakan assertif terhadap lingkungan
7.      Mengintegrasikan seluruh departemen untuk menfasilitasi fleksibilitas dalam merespon kebutuhan yang berhubungan dengan lingkungan.
8.      Mengalokasikan sumberdaya yang terbatas untuk memperlihatkan komitmen.
9.      Mengkomunikasikan tindakan yang dilakukan perusahaan melalui periklanan dan publisitas yang efektif.
10.  Memonitor respon konsumen melalui program riset pemasaran aktif.
Implementasi dari sepuluh langkah ini di dalam perusahaan, sangat membutuhkan pendidikan dan kominikasi yang intensif,  baik secara internal maupun eksternal. Komunikasi eksternal melalui periklanan dan publisitas merupakan hal yang sangat penting. Perusahaan harus berhati-hati dalam melakukan komunikasi kepada konsumen, sehingga pesan yang diterima oleh konsumen sesuai dengan yang ingin disampaikan perusahaan.
Wells (1990) memberikan beberapa tip penting untuk mencapai kesuksesan dalam berkomunikasi yaitu :
1.      Gambarkan komitmen perusahaan terhadap lingkungan dengan sungguh-sungguh
2.      Bersiaplah untuk diselidiki atau diperiksa oleh pihak lain
3.      Fokus pada tindakan positif tapi tetap berhati-hati terhadap munculnya penolakan dari pihak lain.
4.      Buatlah pernyataan dengan sederhana dan mudah dimengerti

G.  MASALAH DALAM MELAKSANAKAN GREEN MARKETING
Dalam usaha mengaplikasikan konsep green marketing terdapat beberapa permasalahan potensial yang bisa muncul menurut Polonsky (1994). Pertama adalah perusahaan yang menggunakan green marketing harus yakin bahwa tindakan mereka tidak menyesatkan konsumen dan industri, dan tidak melakukan pelanggaran terhadap peraturan atau hukum yang berlaku pada pemasaran lingkungan.
            Masalah kedua yang dihadapi perusahaan adalah pada saat memodifikasi produk mereka sesuai permintaan ataupun persepsi konsumen, tapi ternyata produk ini juga tidak lebih baik dari produk yang terdahulu karena konsumen memeliki persepsi yang salah. Oleh sebab itu perusahaan harus memiliki pengetahuan yang baik sehingga dapat mengambil keputusan dan tindakan terhadap lingkungan yang benar .
            Masalah ketiga adalah peraturan pemerintah yang didisain guna memberikan peluang kepada konsumen untuk membuat keputusan yang lebih baik, atau memotivasi mereka untuk lebih bertanggungjawab terhadap lingkungan hidup. Sangat sulit bagi perusahaan untuk dapat menyesuaikan dengan seluruh isu lingkungan. Oleh karena itu sebaiknya pemerintah mengembangkan aturan dan petunjuk yang jelas.
            Bereaksi berdasarkan tindakan kompetitor dapat menyebabkan follower membuat kesalahan yang sama dengan first mover. Oleh karena itu perusahaan yang mengikuti langkah kompetitor harus lebih cermat dalam bereaksi terhadap tindakan kompetitornya.
H.    KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Green Marketing merupakan sebuah konsep yang perlu diperhatikan oleh perusahaan dalam memasarkan produknya, hal ini dikarenakan semakin meningkatnya kesadaran konsumen akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan. Sebuah perusahaan dalam memasarkan produknya pada saat ini harus mulai berorientasi pada pemasaran yang ramah lingkungan yang dimulai dari pembuatan perencanaan strategis.
Dengan memasukan unsur kepedulian terhadap lingkungan secara terintegrasi dalam setiap perencanaan strategisnya, perusahaan akan mampu menjadikan hal tersebut sebagai salah satu sumber Sustainable Competitive Advantage yang bisa digunakan untuk memenangkan persaingan. Implikasi lain bagi perusahaan adalah,  perusahaan bisa memilih salah satu diantara dua pendekatan dalam green marketing yaitu pendekatan defensive atau pendekatan assertif.
Dalam penerapan green marketing, terdapat potensi terjadinya masalah yang berasal dari: pertama kemungkinan terjadinya pelanggaran terhadap aturan yanga ada dalam penerapan green marketing,  ke dua produk yang di modifikasi ternyata tidak mampu memberikan nilai tambah bagi konsumen, sehingga konsumen tetap menganggap tidak ada perubahan yang signifikan pada produk yang dihasilkan. Kemampuan perusahaan menyesuaikan diri dengan perubahan peraturan dan keinginan konsumen menjadi masalah ke tiga, terakhir jika perusahaan tidak berhati-hati menghadapi reaksi pesaing dalam penerapan green marketing, akan menyebabkan terjadinya kesalahan pengambilan keputusan.
2.  Saran
 Jika perusahaan ingin mendapatkan sebuah keunggulan yang mampu membuatnya berbeda dari pesaing dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan, perusahaan sebaiknya lebih memilih pendekatan assertif yang mampu menciptakan image positif bagi perusahaan.
Dalam penerapan konsep green marketing, perusahaan akan mengalami beberapa kendala, oleh karena itu perusahaan harus mampu mengantisipasinya dengan beberapa cara seperti dengan memberikan pendidikan dan membangun komunikasi yang baik dengan setiap stakeholder yang terlibat. Kedekatan dengan pelanggan harus dijaga dengan baik, agar apa yang dilakukan oleh perusahaan, bisa diterima oleh pelanggan dan memberikan efek positif terhadap kinerja pemasaran perusahaan.
DAFTAR BACAAN           
Karna, Jari. Eric Hansen and Heikki  Juslin.2003. Social Responsibility in Environmental Marketing Planning. European Journal of Marketing.Vol 37 No.5/6. p. 848-871
Prakash, Aseem. 2002. Green Marketing, Public Policy and Managerial Strategies.  Journal  of  Business  Strategy  and  The Environment.Vol 11 P. 285-297.
Polonsky, Michael Jay. 1994.  An Introduction To Green Marketing. Electronic Green Journal .Vol 1 issue 2.

Mc.Daniel, Stephen W. Rylander, David H. 1993. Strategic Green Marketing. Journal of Consumer Marketing Vol 10 No 3 p.4-10




KARAKTERISTIK JIWA KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA FIS UNP

 

 

Abror


Abstract
The aims of this study are to identify and meassuring some Entrepreneurship characteristics of  FIS UNP students. This study used 98 respondents from four department in FIS UNP. This Research identified 14  entrepreneurship characteristics and have found only 11 entrepreneurship characteristics strongly related to FIS UNP students.

Keyword: Entrepreneurship, Innovative, Creative,
         Characteristics, FIS UNP

PENDAHULUAN


       Persaingan pada dunia kerja semakin ketat saat ini, pada saat ini muncul suatu ide yang mengarahkan para lulusan perguruan tinggi agar memiliki jiwa kewirausahaan. Dengan adanya jiwa kewirausahaan  pada lulusan perguruan tinggi, diharapkan bisa menjawab tantangan dan mampu mengarahkan mahasiswa  agar tidak hanya mencari pekerjaan tetapi lebih kearah menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional  juga mengakomodir masalah ini dengan meluncurkan suatu program yaitu program pengembangan jiwa kewirausahaan di perguruan tinggi. Program ini bertujuan untuk: (a) Menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan di dalam lingkungan perguruan tinggi serta untuk mendorong terciptanya wirausahawan baru, (b) Mendorong pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan menjadi perangkat yang dapat digunakan masyarakat dan bernilai komersial, (c) Mewujudkan sinergi potensi perguruan tinggi dengan potensi industri/usaha kecil menengah sehingga  dapat menumbuhkan industri-industri kecil dan menengah yang mandiri, (d) Meningkatkan peluang   keberhasilan wirausaha baru melalui kegiatan pelayanan konsultasi terpadu, (e) Mendorong akselerasi pemulihan ekonomi Indonesia melalui penanggulangn kemiskinan dan penyediaan lapangan kerja dengan tumbuhnya wirausaha baru yang kuat, baik dari segi kualitas barang produksi dan  jasa maupun dari pemasarannya, (f) Menumbuhkan kegiatan-kegiatan yang mendorong terwujudnya income generating unit di perguruan tinggi Indonesia dalam mengantisipasi otonomi perguruan tinggi (Dirjend Dikti, 2003).
Menumbuhkan jiwa kewirausahaan  bukanlah hal yang mudah, karena jiwa ini tidak akan muncul  hanya dengan memberikan pengetahuan tentang kewirausahaan, tetapi juga berasal dari dalam diri masing-masing mahasiswa yang sudah dibawa sejak lahir serta mencoba menerapkannya di lapangan. Agar usaha ini berhasil perlu dilakukan indentifikasi awal terhadap jiwa kewirausahaan mahasiswa yang ada, agar pengembangan ke depan bisa  tepat sasaran.
Kondisi riil yang terjadi,  terdapat indikasi kegiatan pengembangan jiwa kewirausahaan yang dilakukan belum berjalan sebagaimana mestinya atau tidak dapat memunculkan akselerasi yang cukup dalam memunculkan jiwa kewirausahaan mahasiswa. Setelah mahasiswa mendapatkan program pengembangan jiwa kewirausahaan, ternyata belum mampu menumbuhkan jiwa tersebut secara kuat. Kewirausahaan  diharapkan nanti wujud dalam bentuk usaha riil dalam membuka usaha-usaha baru  atau lapangan kerja baru. Sebagian besar mahasiswa masih terfokus mencari pekerjaan atau menjadi guru dan pegawai negeri
Untuk menilai jiwa kewirausahaan yang dimiliki oleh mahasiswa, bisa dilakukan dengan memperhatikan karakteristik  yang harus dimiliki oleh seorang yang memiliki jiwa kewirausahaan yang kuat. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian awal terhadap jiwa kewirausahaan yang dimiliki mahasiswa, sebelum dilakukan  upaya pengembangan.
Hal inilah yang menjadi latar belakang diangkatkannya penelitian ini, agar bisa mengetahui  kondisi awal mahasiswa yang akan menjadi input dalam proses pengembangan jiwa kewirausahaan.Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah karakteristik jiwa kewirausahaan apasajakah yang dimiliki oleh mahasiswa FIS Universitas Negeri Padang serta bagaimanakah  penilaian terhadap jiwa kewirausahaan mahasiswa FIS  Universitas Negeri Padang.

Kewirausahaan menurut Zimmerer dalam Suryana (2000) adalah:”Entrepreneur is the result of a disciplined, systematic process of applying creativity and innovations to need and opportunities in the market place”.  Kewirausahaan merupakan hasil dari suatu disiplin, proses yang sistematis penerapan suatu kreatifitas dan inovasi  dalam memenuhi kebutuhan serta memperoleh peluang pasar.
Pendapat ahli  tentang kewirausahaan  mengalami perkembangan yang cukup pesat. Cunningham dalam Koh (1996) telah ditemukan enam mazhab (schools of thought) jiwa kewirausahaan yaitu:
a). The Great Person School: mazhab ini menyatakan bahwa seorang wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang dilahirkan dengan intuisi, energi, persisten dan kepercayaan diri yang tinggi .
b). The Classical School: Mazhab ini menilai seorang wirausahawan dari sisi inovasi kreativitas dan penemuan.
c). The Management School: Seorang wirausahawan adalah orang yang mampu mengorganisir, memiliki dan memanajemeni serta mengasumsikan sejumlah risiko.
d). The Leadership School: seorang wirausahawan adalah orang yang mampu memotivasi, mengarahkan dan memimpin.
e). The Intrapreneurship School: Mazhab ini berfokus pada manajer yang memiliki keahlian yang cukup dalam mengelola organisasi yang kompleks.
f). The Psychological Characteristics School: Mazhab ini menyatakan bahwa seorang wirausahawan adalah orang memiliki nilai, sikap dan kebutuhan  yang unik, yang membuatnya berbeda dengan non wirausahawan.
Kewirausahaan memiliki karakteristik-karakteristik tertentu, ini sesuai dengan  pemahaman mazhab  The Psychological Characteristics.  Seperti yang diungkapkan Meredith (1996) kewirausahaan memiliki ciri-ciri antara lain, percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil, pengambilan resiko, kepemimpinan, keorisinilan dan berorientasi masa depan. Kemudian menurut Zimmerer dalam Suryana (2000) ciri/karakteristik kewirausahaan itu ada delapan yaitu: (1) Desire for Resposibility, (2) Preference for moderate risk, (3) Confidence in their ability to success, (4) Desire for immediate feedback, (5) Future Orientation, (6) High level of energy, (7) Skill at organizing, (8) Value of achievment over money.
Penelitian tentang  jiwa kewirausahaan pada mahasiswa telah dilakukan di  berbagai perguruan tinggi. Penelitian yang berfokus pada karakteristik jiwa kewirausahaan  ini juga telah dilakukan sebelumnya oleh Koh (1996) yang ditujukan kepada mahasiswa MBA di Hongkong,  temuan dari penelitian tersebut , didapatkan  bahwa ada  enam karakteristik yang berpengaruh secara signifikan terhadap jiwa kewirausahaan. Karakteristik tersebut meliputi kebutuhan untuk berprestasi, locus of control/berorientasi pada tugas dan hasil,  mau mengambil risiko,  bertoleransi terhadap ketidak pastian, percaya diri dan inovatif. Penelitian lain yang dilakukan oleh Hansemark (1998) juga menemukan jiwa kewirausahaan itu dapat diukur dengan locus of control dan kebutuhan berprestasi, penelitian ini dilakukan untuk mengukur efektifitas suatu pendidikan kewirausahaan. Galloway dan Brown (2002) menggunakan karakteristik ambisi dan motivasi sebagai alat ukur jiwa kewirausahaan pada Strathclyde University.

 

METODE PENELITIAN


Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang berusaha menggambarkan fenomena yang terjadi. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel  adalah penilaian jiwa kewirausahan dan karakteristik kewirausahaan. Penilaian jiwa kewirausahaan dilakukan berdasarkan kondisi riil responden yaitu  berdasarkan kuat lemahnya karakteristik yang dimiliki. Karakteristik ini merupakan gabungan dari berbagai karakteristik yang dikemukakan oleh berbagai ahli seperti yang terlihat pada  model  berikut:

                     Model Penelitian
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh mahasiswa FIS UNP yang terdaftar di Semester Ganjil 2003/2004 minimal telah berada di tahun ketiga atau angkatan 2001 keatas. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Sampel  dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan ekonomi sebanyak 40 orang, jurusan Geografi sebanyak 20 orang, dan jurusan PPKn/Hukum sebanyak 20 orang serta jurusan Sejarah sebanyak 20 orang sehingga totalnya adalah  100 orang, penentuan  jumlah sampel didasarkan pada pendapat Hair (1998) yaitu 5 - 20 kali banyaknya variabel dalam penelitian. Jurusan Ekonomi mendapat proporsi yang lebih besar karena memiliki populasi juga paling banyak dibandingkan 3 jurusan lainnya.
Analisis data akan dilakukan dengan analisis deskriptif  dengan menggunakan  nilai rata-rata, modus, serta melakukan interpretasi  berdasarkan teori yang  relevan. Semakin banyak responden yang menjawab sangat setuju maka semakin tinggi pula penilaian terhadap jiwa kewirausahaan yang dimiliki.
     Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan karakteristik jiwa kewirausahaan  adalah karakteristik atau ciri-ciri kewirausahaan yang dimiliki oleh mahasiswa FIS UNP yang terdiri dari: Kebutuhan berprestasi yang tinggi, percaya diri , berorientasi pada tugas dan hasil/locus of control, menyukai risiko yang moderat, inovatif, kreatif , kepemimpinan, berorientasi masa depan, bertanggung jawab, berambisi, memerlukan umpan balik yang cepat, energik/ memiliki daya juang yang tinggi, memiliki dorongan/motivasi untuk unggul, belajar dari kesalahan/kegagalan. Dan yang dimaksud dengan penilaian jiwa kewirausahaan adalah penilaian yang dilakukan berdasarkan jawaban responden tentang karakteristik kewirausahaan yang dimiliki.
            Kebutuhan berprestasi yang tinggi adalah kebutuhan berprestasi yang dimiliki oleh mahasiswa FIS. Percaya diri adalah  sikap mahasiswa dalam melakukan usaha. Berorientasi pada tugas dan hasil/locus of control, adalah orientasi mahasiswa dalam melakukan tugas. Menyukai risiko yang moderat adalah sifat mahasiswa yang mau menanggung risiko yang sudah diperhitungkan.
Inovatif merupakan sifat responden yang mampu memunculkan hal-hal yang baru. Kreatif merupakan jawaban responden tentang kegiatan yang dilakukan. Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan untuk mengarahkan orang lain melakukan suatu pekerjaan. berorientasi masa depan, bertanggung jawab, berambisi, memerlukan umpan balik yang cepat, energik/ memiliki daya juang yang tinggi, memiliki dorongan/motivasi untuk unggul, dan belajar dari kesalahan/kegagalan.

TEMUAN DAN PEMBAHASAN

Temuan
Penelitian ini menggunakan 100 orang responden , namun yang memenuhi syarat untuk dimasukan dalam pengolahan data hanya 98 responden. Responden  yang diambil terdiri dari 40 orang mahasiswa jurusan Ekonomi, 20 orang jurusan Ilmu Hukum/PPKN, 20 orang jurusan Sejarah dan 18 orang jurusan Geografi. Berdasarkan jenis kelamin responden yang diambil terdiri dari 25 orang laki-laki dan 73 orang perempuan.
Jika dilihat profil responden lebih lanjut rata-rata adalah mahasiswa angkatan 2001 sebanyak 71%, kemudian diikuti oleh angkatan 2000 sebanyak 17%. Berdasarkan umur, responden dalam penelitian ini 41,8% berumur 20 tahun dan 26% berumur 21 tahun. Jika ditinjau dari rata-rata IPK responden, ternyata 57,1% memiliki IPK antara 2,6 -3,0 dan diikuti oleh IPK antara 3,1 – 3,5 sebanyak 27,6%.
 Penilaian berdasarkan  14 karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha terlihat bahwa untuk karakteristik pertama yaitu memiliki kebutuhan berprestasi yang tinggi, responden sebagian besar menjawab sangat setuju yaitu sebesar 71,4 % dan 27,6% menjawab setuju.Karakteristik yang kedua adalah memiliki rasa percaya diri yang tinggi, para responden hanya 10,2% yang menjawab sangat setuju dan 39,8% menjawab setuju, sedangkan 45,6% menjawab netral/ragu-ragu. Karakteristik yang ke tiga adalah berorientasi pada tugas dan hasil/ Locus control, responden  48% menjawab setuju dan 38,8% menjawab sangat setuju untuk pernyataan ini
Karakteristik ke empat, seorang wirausaha juga harus menyukai risiko yang moderat, responden dalam penelitian ini 39,8% menjawab setuju bahwa  mereka menyukai risiko yang moderat dan hanya 10,2% yang menjawab sangat setuju sedangkan 33,7% menjawab ragu-ragu/netral, serta 13,3% menjawab tidak setuju. Karakteristik ke lima adalah mampu menciptakan ide-ide yang inovatif, jawaban responden menunjukan 43,9% menjawab sangat setuju, 12,2% menjawab sangat setuju serta 41,8% menjawab netral/ragu-ragu.
Kesukaan untuk mencoba cara-cara baru/kreatif  merupakan karakteristik ke enam bagi  seorang wirausaha, berdasarkan jawaban responden  ternyata 60,2% menjawab setuju dan 18,4% menjawab sangat setuju, hanya 21,4% menjawab netral. Seorang wirausaha  harus mampu mengarahkan orang lain untuk melakukan pekerjaan/ kepemimpinan dan  ini merupakan karakteristik ke tujuh, ternyata berdasarkan jawaban responden 50% menyatakan setuju dan 12,2% menyatakan sangat setuju, sedangkan 33,7% menyatakan netral/ragu-ragu.
Berorientasi ke masa depan merupakan karakteristik ke delapan dari seorang wirausaha, dari jawaban responden 55,1% menjawab sangat setuju dan 37,8% menjawab setuju. Karakteristik ke sembilan adalah bahwa seorang wirausaha juga harus memiliki tanggung jawab yang tinggi, jawaban responden menunjukan 49% menyatakan sangat setuju, 44,9% menjawab setuju.
Karakteristik ke sepuluh, seorang wirausaha harus memiliki ambisi yang kuat untuk melakukan pekerjaan, jawaban responden menunjukan 55,1% menyatakan setuju dan 31,6% menyatakan sangat setuju. Selalu memerlukan umpan balik yang cepat merupakan karakteristik ke sebelas, jawaban responden menunjukan 49% setuju, 24,5% sangat setuju dan 21,4%  menjawab netral/ragu-ragu.
Memiliki daya juang yang tinggi/energik merupakan karakteristik ke dua belas, jawaban responden untuk karakteristik ini memperlihatkan 57,1% menjawab setuju dan 23,5% menjawab sangat setuju serta 19,4% menjawab netral/ragu-ragu. Karakteristik ke tiga belas adalah memiliki motivasi yang kuat untuk berhasil, jawaban responden menunjukan 48% menjawab setuju dan 39,8% menjawab sangat setuju. Karakteristik terakhir dalam penelitian ini adalah selalu mau belajar dari kesalahan yang dilakukan, berdasarkan karakteristik ini responden 67,3% menjawab sangat setuju dan 28,8% menjawab setuju .
Dari 98 orang responden dalam penelitian ini ternyata 16 orang  sudah pernah mengikuti program kewirausahaan di UNP. Kegiatan yang mereka ikuti rata-rata adalah kuliah kewirausahaan dan mata kuliah kewirausahaan untuk mahasiswa jurusan ekonomi. Berdasarkan pertanyaan lanjutan tentang program yang mereka ikuti, ternyata 11 orang menilai program kewirausahaan yang dilakukan oleh UNP belum berjalan secara baik, 4 orang menyatakan tidak tahu dan hanya satu orang yang sudah menilai baik.
Ada beberapa alasan yang diberikan bagi yang menjawab belum berjalan secara baik seperti, kurangnya orientasi lapangan, lebih banyak teori, masih banyaknya lulusan yang belum mampu menciptakan lapangan kerja, kurangnya tindak lanjut setelah program dijalankan. Setelah tamat rata-rata mahasiswa masih menjawab ingin mencari kerja yaitu sebanyak 73 orang dan hanya 12 orang yang menjawab akan berwirausaha.
Berdasarkan pertanyaan tindakan apa yang harus dilakukan oleh UNP ke depan, jawaban cukup beragam, seperti mengoptimalkan program kewirausahaan yang ada dan diikuti dengan praktek lapangan, menjalin kerjasama dengan dunia usaha/dunia industri, membantu mahasiswa/ lulusan dalam membuka usaha baru, baik berupa bantuan motivasi, pelatihan maupun dana, serta tetap memantau lulusannya yang belum mendapat pekerjaan.

Pembahasan
            Berdasarkan temuan diatas,  terlihat  untuk beberapa karakteristik ternyata sudah dimiliki secara lebih baik oleh responden dalam penelitian ini, seperti kebutuhan berprestasi yang tinggi. Hal ini menunjukan bahwa responden adalah orang-orang yang ingin berprestasi, ini sesuai dengan temuan Koh (1996) yang menyatakan salah satu karakteristik dari wirausaha adalah memiliki kebutuhan berprestasi yang tinggi.
Karakteristik berorientasi pada tugas dan hasil/locus control dinilai telah dimiliki oleh mahasiswa FIS UNP. Penelitian yang dilakukan oleh Hansemark (1998)  menemukan locus control dan kebutuhan berprestasi sebagai karakteristik kewirausahaan. Karakteristik suka mencoba cara-cara baru/ kreatif juga terlihat sudah dimiliki oleh responden.Hasil ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya  oleh Koh (1996), Meredith (1996) dan Zimmerer yang menemukan bahwa seorang wirausaha harus memiliki sifat kreatif yang ditunjukan dengan menyukai cara-cara baru.
      Karakteristik berikutnya adalah mampu mengarahkan orang lain untuk melakukan pekerjaan, responden dinilai cukup memiliki karakteristik ini. Meskipun demikian masih ada  yang ragu dengan kemampuan mereka untuk mengarahkan orang lain.Seorang wirausaha harus berorientasi ke masa depan, berdasarkan karakteristik ini, responden dinilai sudah berorientasi ke masa depan.    Karakteristik mempunyai ambisi yang kuat untuk melakukan pekerjaan ternyata juga sudah cukup dimiliki. Wirausaha juga dituntut harus memiliki karakteristik memerlukan umpan balik yang cepat atas pekerjaan yang dilakukan, responden dalam penelitian ini dinilai sudah memiliki sifat tersebut. Karakteristik memiliki ambisi yang kuat dan memerlukan umpan balik akan sangat dibutuhkan oleh seorang wirausaha ketika menghadapi sebuah peluang dan menyikapi tantangan yang muncul.
      Seorang wirausaha juga harus memiliki daya juang yang tinggi, karena dalam menghadapi kondisi persaingan dibutuhkan semangat dan daya juang yang tinggi serta tidak mudah putus asa. Seorang wirausaha juga harus memiliki motivasi yang kuat untuk berhasil. Berdasarkan temuan dinilai mahasiswa FIS Unp sudah memilikinya. Karakteristik selalu belajar dari kesalahan yang dilakukan juga dinilai telah dimiliki oleh mahasiswa.  Galloway dan Brown (2002) juga menemukan bahwa faktor motivasi dan ambisi merupakan karakteristik dari jiwa kewirausahaan.
Beberapa karakteristik lain belum lagi dimiliki secara utuh oleh mahasiswa FIS UNP. Hal ini terlihat pada karakteristik seorang wirausaha haruslah sangat percaya diri, ternyata sebagian mahasiswa  masih ragu  dengan kondisi mereka dan hanya sedikit  yang sangat yakin dengan kepercayaan diri mereka. Berdasarkan temuan Koh (1996), Meredith (1996) dan Zimmerer dalam Suryana (2000),  seorang wirausaha harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi, karena untuk memulai melakukan suatu usaha dibutuhkan kepercayaan diri yang tinggi.
Kepercayaaan diri akan memberi keyakinan kepada wirausaha untuk memulai usahanya sekaligus bisa berguna untuk meyakinkan orang lain. Kurangnya kepercayaan diri responden berkemungkinan disebabkan oleh belum adanya praktek lapangan yang dilakukan, sehingga responden cenderung takut gagal.
 Karakteristik inovatif juga memperlihatkan tingkat keraguan yang cukup tinggi, hal ini berarti masih banyak responden belum yakin dengan kemampuannya untukmenciptakan ide-ide yang inovatif. Hal ini juga berkaitan dengan kepercayaan diri dan keberanian untuk mencoba ide-ide baru. Meskipun responden punya pengetahuan yang cukup namun belum pernah menerapkannya dalam usaha riil, bisa menyebabkan responden tidak dapat memikirkan ide-ide baru untuk pengembangan usaha.
      Seorang wirausaha juga harus menyukai risiko yang moderat, temuan menunjukan mahasiswa kurang menyukai risiko moderat. Memang sebagian besar orang lebih suka menghindari risiko, namun  seorang wirausaha harus menyukai risiko yang moderat, hal ini juga ditemukan dalam penelitian Koh (1996).
      Kondisi-kondisi diatas memperlihatkan bahwa ke empat belas karakteristik kewirausahaan telah dimiliki oleh responden, namun ada beberapa karakteristik yang belum cukup kuat dimiliki, yaitu berupa kepercayaan diri yang tinggi dan kemampuan mengambil risiko yang moderat serta kemampuan menciptakan ide-ide yang inovatif. Ini diperlihatkan dengan masih banyaknya responden yang menjawab netral/ragu-ragu dengan kemampuan mereka untuk tiga karakteristik tersebut.
      Kondisi diatas diperkuat dengan jawaban pertanyaan lanjutan tentang rencana responden setelah tamat, ternyata sebagian besar masih ingin mencari pekerjaan , hanya 25 orang responden yang  ingin berwirausaha. Agar kondisi ini bisa diatasi perlu dilakukan pembinaan-pembinaan untuk meningkatkan kepercayaan diri, berani mengambil risiko yang moderat dan memunculkan ide-ide yang inovatif tanpa mengabaikan karakteristik lain. Kegiatan yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan-pelatihan yang lebih intensif tetapi harus diikuti dengan praktek lapangan seperti magang, ataupun diminta membuka usaha sendiri.
Dari hasil tabulasi silang dapat disimpulkan bahwa antara laki-laki dan perempuan dalam penelitian ini tidak ada perbedaan yang signifikan dalam jiwa kewirausahaan. Berdasarkan jurusan ternyata untuk  karakteristik memiliki kebutuhan berprestasi yang tinggi, paling besar dimiliki oleh jurusan geografi dan kemudian diikuti oleh ilmu hukum.
Jawaban ragu-ragu yang terbesar untuk karakteristik menyukai risiko yang moderat juga dimiliki oleh jurusan geografi yang kemudian diikuti oleh jurusan ilmu hukum. Sedangkan  untuk karakteristik inovatif, paling banyak yang menjawab ragu-ragu adalah jurusan ekonomi yang kemudian diikuti oleh jurusan sejarah. Hal diatas menunjukan rata-rata setiap jurusan lemah dalam tiga karakteristik diatas yaitu karakteristik percaya diri, menyukai risiko yang moderat dan inovatif, meskipun memiliki kebutuhan berprestasi yang cukup tinggi.

Ekplorasi lebih lanjut, ternyata dari 98 responden  ada 16 responden yang telah mengikuti program kewirausahaan yang dilakukan oleh UNP, kegiatan itu berupa Kuliah Kewirausahaan dan bagi mahasiswa ekonomi di tambah dengan mata kuliah kewirausahaan. Penilaian dari 16 responden tersebut, 11 orang menyatakan bahwa program kewirausahaan yang dilakukan UNP belum berjalan secara baik karena terputus hanya pada pemberian materi, sedangkan praktek lapangan masih kurang. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab mengapa mereka tidak berani untuk membuka usaha sendiri.
                                                                               
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
                  Dari penelitian ini dapat diambil beberapa temuan pokok yaitu, 14 karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha, telah dimiliki oleh responden, meskipun masih ada beberapa karakteristik yang belum dimiliki secara cukup. Karakteristik tersebut adalah kepercayaan diri , kemampuan menciptakan ide-ide yang inovatif, kemauan mengambil risiko yang moderat.
Berdasarkan kondisi diatas dapat pula disimpulkan bahwa karakteristik jiwa kewirausahaan telah dimiliki oleh responden namun masih ada  beberapa karakteristik yang dinilai belum cukup kuat dimiliki oleh responden. Temuan lain  patut diduga bahwa program kewirausahaan di UNP belum berjalan sebagaimana mestinya, hal ini ditunjukan  oleh jawaban 16 orang responden yang telah pernah mengikuti program kewirausahaan. Sebanyak 11 orang responden menjawab program kewirausahaan yang dilakukan UNP belum berjalan sebagaimana mestinya.
Meskipun demikian ini perlu pembuktian lebih lanjut, karena jumlah responden yang diambil masih sangat kecil dan belum tentu mewakili populasi yang pernah mengikuti program kewirausahaan di UNP. Berdasarkan jawaban responden  tersebut, penyebab program ini belum berjalan sebagaimana mestinya adalah karena program yang dilakukan cendrung tidak berkelanjutan, atau setelah  diberi pelatihan , tidak ada kegiatan selanjutnya seperti magang untuk mengasah pengetahuan yang diterima.

 Saran
            Berdasarkan temuan-temuan  di atas, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa dalam  berusaha. Hal ini bisa dilakukan dengan memberi kesempatan pada mahasiswa untuk mencoba membuka suatu usaha baru, atau memberi kesempatan magang pada berbagai perusahaan yang relevan. UNP disarankan  untuk melakukan evaluasi terhadap program kewirausahaan yang sudah ada saat ini.  Upaya yang dilakukan  terhadap temuan-temuan harus diseimbangkan dengan upaya untuk mempertahankan karakteristik yang sudah cukup baik secara terpadu.
            Setiap jurusan pada FIS UNP harus mampu mendorong jiwa kewirausahaan yang dimiliki mahasiswanya agar nanti mampu melahirkan wirausaha-wirausaha baru yang tangguh, hal ini bisa difokuskan pada karakteristik yang masih lemah tetapi tetap memperhatikan pengembangan karakteristik lain yang sudah cukup kuat.

DAFTAR PUSTAKA


Galloway, Laura . Brown, Wendy. 2002. Entrepreneurship Education at University: A Driver In The Creation of High Growth Firms?, Journal Of Education and Training, Vol 44 No.8/9 p.398-405

Hair, JF,Jr, Anderson,RE, Tatham, R.L and Black, W.C .1998. Multivariate Data
Analysis, 5th ed, Pren-Hall Inc, Upper Saddle River

Hansemark, Ova. C. 1998. The Effects of an Entrepreneurship Programme on Need for Achievement and Locus of Control of Reinforcement, International Journal of Entrepreneural Behavior & Research, Vol 4  No. 1 p.28-50.

Koh, H.C. 1996. Testing Hypothesis of Entrepreneural Characteristics, Journal of Managerial Psychology, Vol..11 No. 3, p.12-25

Meredith, G. Geoffrey. 1996. Kewirausahaan:Teori dan Praktek, Jakarta, Pustaka Binaman Presindo

Santoso, Singgih.2002. SPSS Statistik Multivariat.Jakarta. Elex Media Komputindo

Sekaran, Uma.2000. Research Methods for Business A Skill Building Approach.Third Edition. New York. Jhon Willey&Sons

Suryana. 2000. Kewirausahaan, Jakarta, Salemba Empat