Sabtu, 29 Januari 2011

GREEN MARKETING : KONSEP ALTERNATIF DALAM PEMASARAN

GREEN MARKETING : KONSEP ALTERNATIF DALAM PEMASARAN
By
Abror
Abstract
Green marketing is an alternative concept in marketing. Every marketer’s must concern about this, because of the situation has been change. Customer now becoming smart and care about environmental issues. When the marketers want to sell product to the market, they should be aware with this. The marketers permitted to use one of two green marketing approaches, Defensive or Assertive approach, but if the marketers  want to get a sustainable competitive advantage, they had better to use assertive approach. Green Marketing still has some constraints or problems in implementation, the marketer must give good education to the customers and make a good communication with them.

Key Word:  Green Marketing, environmental marketing, ecological marketing
A.  PENDAHULUAN
Lingkungan pemasar mengalami perubahan yang sangat radikal, seperti perubahan teknologi, globalisasi dan peraturan pemerintah. Kondisi ini akan mendorong timbulnya perilaku baru dari konsumen yang tercermin pada kebutuhan dan keinginannya. Agar mampu memenangkan persaingan, pemasar harus cepat bereaksi terhadap perubahan permintaan pelanggan dan memuaskan semua kebutuhan dan keinginan mereka, karena pada dasarnya pemasaran berhulu dan bermuara pada pelanggan.
            Akhir-akhir ini kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup mulai meningkat setelah melihat banyaknya kerusakan lingkungan yang terjadi. Organisasi pemerhati lingkungan mulai bermunculan dan mengkritisi aktivitas yang dilakukan oleh pemasar. Hal ini mempengaruhi  konsumen sehingga mereka mulai menaruh perhatian pada isu lingkungan hidup lebih dari pada sebelumnya. Konsumen menjadi sangat perhatian terhadap keterbatasan sumber daya yang ada di bumi, kesehatan dan perusakan lingkungan, sehingga mulai melirik produk yang lebih bertanggungjawab kepada lingkungan. Sejalan dengan itu, pemerintah  mulai mengeluarkan peraturan yang berhubungan dengan lingkungan.
Perubahan ini menimbulkan tantangan yang harus dijawab bagi pemasar berupa peluang atau ancaman. Pemasar yang pintar akan memandang isu lingkungan hidup sebagai peluang untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen, bukan ancaman. Pemasar akan mengaplikasikan isu lingkungan dalam aktivitas pemasaran yang mereka lakukan, sehingga menimbulkan fenomena baru dalam dunia pemasaran berupa konsep Green Marketing.

B.  PENGERTIAN GREEN MARKETING
Melaksanakan konsep green marketing dalam suatu perusahaan berarti memasukkan pertimbangan lingkungan dalam semua dimensi aktivitas pemasaran yang dilakukan perusahaan (Crane, 2000). Dalam literatur yang ada, konsep green marketing merupakan variasi terminologi dari environmental marketing, ecological marketing, green marketing, sustainable marketing, greener marketing  (Prakash, 2002), dan societal marketing (Kotler 2003).
Sebenarnya konsep green marketing bukanlah hal yang baru. Konsep ini sudah diperkenalkan oleh Bell dan Emeri, serta Feldman sejak tahun 1971, yang menyatakan konsep pemasaran telah salah penempatan, karena hanya sebatas memuaskan keinginan konsumen tapi dengan mengabaikan kepentingan masyarakat dan lingkungan dalam jangka panjang (MCDaniel dan Rylander, 1993).
            Pada tahun 1976 Henion dan Kinnear memperkenalkan ecological marketing sebagai ilmu yang mempelajari dampak positif dan negative dari aktivitas pemasaran pada polusi, penipisan energi dan dan penipisan sumberdaya nonenergi (Polonsky, 1994). Pengertian ini digunakan dalam workshop yang diadakan oleh The American Marketing association (AMA) yang melibatkan akademisi, praktisi dan pembuat keputusan public.
Kotler pada tahun 1976 kemudian memperkenalkan konsep societal marketing untuk memenuhi tanggung jawab sosial pemasar yang terdiri dari empat pertimbangan dalam pengambilan keputusan pemasaran yaitu : keinginan konsumen, kepentingan konsumen, persyaratan perusahaan, dan kesejahteraan lingkungan sosial. (MCDaniel dan Rylander, 1993). Konsep ini menyatakan bahwa tugas organisasi adalah menentukan kebutuhan, keinginan, dan kepentingan dari pasar sasaran, dan memberikan kepuasan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan pesaing  dengan jalan melindungi atau meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyrarakat ( Kotler, 2003)
            Peattie pada tahun 1995 mendefinisikan green marketing sebagai proses manajemen holistik yang bertanggung jawab untuk mengidentifikasi, mengantisipasi dan memuaskan keinginan konsumen dan masyarakat dengan jalan yang menguntungkan dan berkelanjutan (Karna, Hansen dan Juslin 2001).
Sementara Polonsky (1994), menyatakan bahwa green marketing merupakan seluruh aktivitas yang didesain untuk menghasilkan dan memfasilitasi semua perubahan yang diharapkan dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia, dengan dampak minimal pada perusakan lingkungan alam. Hal ini terjadi akibat pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia memiliki potensi untuk menimbulkan dampak negatif pada lingkungan alam.
Dari pengertian-pengertian ini dapat disimpulkan bahwa green marketing mengandung beberapa poin penting yaitu : pertama organisasi atau perusahaan melalui aktivitas pemasarannya berusaha memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen, kedua aktivitas pemasaran ini dilaksanakan dengan cara yang lebih efisien dan efektif dibandingkan dengan pesaing, dan ketiga aktivitas ini memberikan dampak minimal pada perusakan lingkungan alam sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat. 
           
C.  PENTINGNYA GREEN MARKETING
Green marketing merupakan konsep yang makin menarik bagi akademisi, praktisi, pembuat aturan publik, konsumen serta masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Alasan mengapa konsep ini menjadi sangat penting untuk diaplikasikan oleh perusahaan merupakan alasan sederhana yang sudah diketahui sejak dahulu, yaitu keterbatasan sumberdaya.
Dalam literatur ekonomi dinyatakan, bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia memenuhi kebutuhan dan keinginannya dengan alat pemenuhan kebutuhan atau sumber daya yang terbatas. Sumberdaya yang ada didunia, baik sumberdaya alam ataupun bukan, jumlahnya terbatas. Eksploitasi sumberdaya yang semena-mena dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang pada akhirnya menurunkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat.
Dari sudut pandang pemasar sendiri, keterbatasan sumberdaya membuat perusahaan mencari cara baru untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Konsep green marketing merupakan suatu alternatif yang dapat digunakan pemasar dalam melaksanakan aktivitas pemasaran dengan memanfaatkan sumberdaya yang terbatas secara efisien dan efektif.

 D.  FAKTOR PENDORONG GREEN MARKETING
Menurut Bansal dan Kendal (2000) faktor pendorong perusahaan untuk lebih memperhatikan lingkungan adalah peraturan pemerintah (legislation), tekanan stakeholder (stakeholder pressures), kesempatan ekonomi (economic opportunities), dan motif etis (ethical motives).
Sementara menurut Polonsky (1994) ada lima alasan bagi organisasi atau perusahaan untuk menerapkan konsep green marketing. Pertama organisasi dapat menggunakan konsep green marketing untuk memanfaatkan peluang dalam mencapai tujuannya. Kedua organisasi percaya bahwa mereka memiliki kewajiban moral untuk lebih bertanggungjawab secara sosial. Ketiga Badan pemerintah melalui peraturan yang dikeluarkannya memaksa perusahaan untuk lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Keempat aktivitas lingkungan yang dilakukan pesaing memaksa perusahaan untuk merubah aktivitas pemasaran lingkungan mereka. Terakhir adalah factor biaya yang diasosiasikan dengan pemborosan pembuangan, atau mengurangi penggunaan material yang membuat perusahaan merobah perilaku mereka.

1.  Faktor Peluang
Meningkatnya kesadaran konsumen terhadap lingkungan alam menimbulkan perubahan dalam perilaku pembelian mereka. Konsumen menjadi lebih sensitif dalam pemilihan produk yang akan mereka konsumsi. Mereka akan memilih produk  ramah lingkungan yang ditawarkan oleh pemasar.
Konsumen yang sangat menyadari arti pentingnya lingkungan alam bahkan mau membeli pada harga premium, tentu saja dengan tidak mengabaikan kualitas. Sehingga pemasar menganggap hal ini merupakan peluang yang baik untuk memenangkan persaingan dan mencapai tujuan perusahaan. Sebagai contoh McDonald menukar kemasan masakan kerangnya dengan kertas lilin (waxed paper) karena meningkatnya perhatian konsumen terhadap produksi polisterin dan penipisan ozon.
Xerox memperkenalkan kertas fotocopy berkualitas tinggi dari proses daur ulang untuk memenuhi keinginan konsumen terhadap perusakan lingkungan yang seminimal mungkin. Perusahaan pengalengan Tuna memodifikasi tekhnik penangkapan ikan mereka karena meningkatnya perhatian masyarakat dan konsumen terhadap kematian lumba-lumba.

2.  Faktor Tanggung Jawab Sosial
Banyak perusahaan yang mulai menyadari bahwa mereka sendiri merupakan bagian dari komunitas yang luas  dan untuk itu mereka harus memiliki perhatian terhadap lingkungan. Mereka percaya bahwa tujuan mereka untuk menjaga kelestarian lngkungan akan sejalan dengan tujuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Sebagai hasilnya isu lingkungan akan terintegrasi dengan budaya perusahaan secara keseluruhan.
Perusahaan dalam hal ini bisa memilih dua alternatif perspektif yang akan digunakannyan. Pertama perusahaan mengkomunikasikan kepedulian mereka terhadap lingkungan hidup kepada konsumen dan masyarakat sebagai alat pemasaran. Kedua perusahaan bertanggung jawab pada lingkungan hidup tanpa mempromosikannya. Sebagai contoh Bodyshop dengan gencar mempromosikan bahwa mereka bertanggungjawab terhadap lingkungan dengan sedapat mungkin menggunakan sayuran sebagai bahan dasar kosmetiknya dibandingkan penggunaan hewan, tidak menggunakan binatang untuk menguji produk akhirnya, menghargai lingkungan, menggunakan bahan dasar yang alami serta konsumen dapat membeli sesuai dengan kuantitas yang mereka inginkan dan menggunakan kemasan isi ulang. Bodyshop menggunakan kepeduliannya terhadap lingkungan sebagai competitive advantage dimana filosofi dari kepedulian terhadap lingkungan tercermin pada budaya perusahaan. Sementara Coca-cola melakukan investasi dalam jumlah yang besar pada aktivitas daur ulang, dan memodifikasi kemasannya untuk meminimalisasi dampak terhadap lingkungan  tanpa mengkomunikasikan dan menggunakanya sebagai alat pemasaran.

3.  Faktor Tekanan Pemerintah
Sehubungan dengan seluruh aktivitas pemasaran yang dilaksanakan perusahaan, pemerintah berusaha melindungi konsumen dan masyarakat, melalui peraturan yang ditetapkan. Peraturan pemerintah ini didesain untuk melindungi konsumen dengan jalan mengurangi produksi  produk yang merusak lingkungan, mengubah perilaku konsumen dan industri dalam penggunaan atau mengkonsumsi produk yang merusak lingkungan, dan meyakinkan konsumen kalau mereka memiliki kemampuan untuk menilai produk terkait dengan pemeliharaan lingkungan hidup. Peraturan ini mengimplikasikan penerapan konsep green marketing bagi perusahaan.
Perusahaan akan berusaha mematuhi peraturan yang ditetapkan pemerintah untuk tetep bertahan dalam bisnis. Peraturan mengenai lingkungan hidup di Indonesia, didasarkan pada Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup no 23 tahun 1997, serta Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 4 tahun 2001 tentang pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. Bagi pihak yang melakukan pelanggaran dapat dikenakan sanksi.

4. Faktor Persaingan
Alasan utama lainnya untuk melaksanakan konsep green marketing adalah untuk menjaga posisi perusahaan dalam persaingan. Perusahaan mulai melihat pesaing mempromosikan perilaku yang ramah lingkungan, dan ini bisa membahayakan kedudukan perusahaan dalam persaingan. Oleh sebab itu, perusahaan berusaha untuk menyamai atau bahkan melebihi pesaing dalam menerapkan konsep green marketing. Dalam hal lain tekanan persaingan menyebabkan beberapa perusahaan memodifikasi dan mengurangi perilaku yang merusak lingkungan.

5.  Faktor Biaya atau Keuntungan
Perusahaan juga menggunakan konsep green marketing untuk dapat mengurangi biaya dan atau meningkatkan kemampuannya dalam menghasilkan laba. Perusahaan yang dapat mengurangi limbah yang dihasilkan dari proses industrinya bisa menghemat biaya. Biasanya minimalisasi produk sampingan dilakukan dengan jalan menguji kembali proses produksi yang dilakukan. Hasilnya sering juga meningkatkan keefektifan proses produksi itu sendiri. Sehingga terdapat penghematan biaya berganda yaitu mengurangi limbah dan menghemat material.
Dalam beberapa situasi, perusahaan dapat mencari pasar untuk produk sampingan atau pembuangan yang mereka hasilkan, sehingga dapat meningkatkan pendapatan perusahaan. Selain itu isu green marketing dapat mendorong berkembangnya industri baru. Hal ini bisa terjadi melalui dua cara, pertama tumbuhnya perusahaan yang mengembangkan teknologi untuk mengurangi pemborosan dan menjualnya pada perusahaan lain. Kedua berkembangnya industri daur ulang dan pembuangan.

E.  PENDEKATAN PERUSAHAAN DALAM GREEN MARKETING
Menurut McDaniel dan Rylander (1993) terdapat dua pendekatan dasar dalam green marketing yaitu defensive atau reactionary approach dan assertive  atau aggressive strategy.

1.  Pendekatan Defensif
Pendekatan defensif merupakan pendekatan dimana perusahaan hanya melakukan konsep green marketing dalam proporsi yang paling minimal untuk menghindari konsekuensi negatif yang bisa saja dihadapi perusahaan. Pendekatan inilah yang paling banyak digunakan oleh perusahaan yang mengadopsi konsep green marketing saat ini.
Ada tiga tipe  pendekatan defensif yang lazim digunakan perusahaan. Pertama perusahan hanya memenuhi standar minimum dari peraturan pemerintah terhadap lingkungan  untuk menghindari sanksi seperti pembayaran pajak yang lebih tinggi atau denda. Kedua adalah perusahaan akan memenuhi standar minimum kepedulian terhadap lingkungan guna menghindari pemboikotan produk atau perusahaan oleh konsumen. Terakhir dari tipe pendekatan defensif adalah perusahaan yang bereaksi terhadap perubahan perilaku kompetitor pada lingkungan, dan mecoba meniru perilaku ini, namun dalam pelaksanaannya masih kurang dari yang seharusnya dapat mereka lakukan.
Strategi ini pada dasarnya tidak dapat menghasilkan peningkatan yang signifikan terhadap penerimaan pasar. Image perusahaan dimata konsumen tidak akan lebih baik dibandingkan pesaing, sebab konsumen mengetahui bahwa usaha perusahaan untuk peduli terhadap lingkungan masih dalam taraf yang rendah. Secara umum perusahaan yang masih belum memenuhi standar-standar lingkungan hidup tidak dapat menjadikan dimensi ini sebagai competitive advantage, dan lebih rentan terhadap reaksi negatif dari pelanggan atau pemerintah. Marc Gobe, direktur kreatif pada Cato Gobe, meramalkan bahwa perusahaan yang tidak memperhatikan isu lingkungan akan menghadapi penurunan pangsa pasar ( Miller, 1990)

2. Pendekatan Assertif
Pendekatan assertif merupakan pendekatan dimana perusahaan merupakan pelopor atau first mover dalam penerapan konsep green marketing. Aktivitas pemasaran yang dilakukannya melebihi dari apa yang syaratkan oleh pemerintah atau yang diminta oleh konsumen. Pendekatan ini merupakan peluang yang baik untuk mendapatkan sustainable competitive advantage.
            Perusahaan yang menggunakan pendekatan assertif berarti lebih mengutamakan respon terhadap permintaan konsumen, dibandingkan untuk memenuhi peraturan pemerintah. Menurut Wells (McDaniel dan Rylander, 2001) pendekatan green marketing yang merespon permintaan pasar adalah perusahaan yang berorientasi pada konsumen dan profit driven.
            First mover atau pelopor memiliki beberapa keunggulan penting dalam green marketing. Pertama meningkatnya image perusahaan dimata konsumen. Jika perusahaan dapat mempertahankan image ini, maka akan tercipta sustainable competitive advantage. Image yang baik merupakan kunci dalam meningkatkan profitabilitas. Perusahaan lain yang mengikuti langkah first mover akan dianggap sebagai imitator yang hanya berada dibelakang perusahaan pelopor. Konsumen bisa jadi bersikap skeptis terhadap perusahaan yang terlambat dalam memenuhi keinginan mereka.
            Keunggulan yang kedua adalah dapat menghindari pemeriksaan dan mentaati peraturan dengan melakukan aktivitas green marketing melebihi yang disyaratkan pemerintah. Agen pemerintahan tidak akan melakukan penyelidikan atau pengawasan terhadap perusahaan yang melaksanakan tindakan peduli lingkungan melebihi standar yang ditetapkan.
            Sebagai tambahan perusahaan yang menggunakan pendekatan assertif terikat pada perencanaan jangka panjang terhadap lingkungan. Hal ini membuat perusahaan lebih fokus pada tujuan jangka panjang yang sangat penting dalam perusahaan. Sementara perusahaan lain mungkin mengalami kesulitan dalam menentukan tujuan jangka panjangnya karena terfokus pada tujuan jangka pendek.

F.     GREEN MARKETING DAN PENGEMBANGAN STRATEGI PEMASARAN

Memasukkan green marketing pada proses perencanaan strategi seringkali menimbulkan permasalahan dalam perusahaan, karena kebijakan terhadap lingkungan hanya diperlakukan sebagai tambahan bukan diintegrasikan secara penuh dalam sebuah perencanaan strategis. Perusahaan seharusnya mendesain sebuah proses perencanaanl pemasaran strategis dengan green marketing sebagai bagian yang terintegrasi secara penuh. Gambar 1 menggambarkan model untuk melaksanakannya


Gambar 1
 


















Sumber : McDaniel and Rylander 1993
Untuk mempermudah dan menfasilitasi proses ini dapat dilakukan sepuluh langkah berikut (McDaniel and Rylander 1993) :
1.      Mengembangkan sebuah kebijakan perusahan terhadap lingkungan
2.      Membangun kepemimpinan lingkungan pada level atas organisasi
3.      Menyewa atau mengembangkan pengacara lingkungan pada perusahaan
4.      Melakukan pendidikan dan pelatihan seluruh karyawan organisasi untuk menciptakan kesadatran terhadap lingkungan
5.      Menjalin komunikasi yang aktif dengan kelompok lingkungan hidup diluar perusahaan dan agen pemerintahan
6.      Mengembangkan program tindakan assertif terhadap lingkungan
7.      Mengintegrasikan seluruh departemen untuk menfasilitasi fleksibilitas dalam merespon kebutuhan yang berhubungan dengan lingkungan.
8.      Mengalokasikan sumberdaya yang terbatas untuk memperlihatkan komitmen.
9.      Mengkomunikasikan tindakan yang dilakukan perusahaan melalui periklanan dan publisitas yang efektif.
10.  Memonitor respon konsumen melalui program riset pemasaran aktif.
Implementasi dari sepuluh langkah ini di dalam perusahaan, sangat membutuhkan pendidikan dan kominikasi yang intensif,  baik secara internal maupun eksternal. Komunikasi eksternal melalui periklanan dan publisitas merupakan hal yang sangat penting. Perusahaan harus berhati-hati dalam melakukan komunikasi kepada konsumen, sehingga pesan yang diterima oleh konsumen sesuai dengan yang ingin disampaikan perusahaan.
Wells (1990) memberikan beberapa tip penting untuk mencapai kesuksesan dalam berkomunikasi yaitu :
1.      Gambarkan komitmen perusahaan terhadap lingkungan dengan sungguh-sungguh
2.      Bersiaplah untuk diselidiki atau diperiksa oleh pihak lain
3.      Fokus pada tindakan positif tapi tetap berhati-hati terhadap munculnya penolakan dari pihak lain.
4.      Buatlah pernyataan dengan sederhana dan mudah dimengerti

G.  MASALAH DALAM MELAKSANAKAN GREEN MARKETING
Dalam usaha mengaplikasikan konsep green marketing terdapat beberapa permasalahan potensial yang bisa muncul menurut Polonsky (1994). Pertama adalah perusahaan yang menggunakan green marketing harus yakin bahwa tindakan mereka tidak menyesatkan konsumen dan industri, dan tidak melakukan pelanggaran terhadap peraturan atau hukum yang berlaku pada pemasaran lingkungan.
            Masalah kedua yang dihadapi perusahaan adalah pada saat memodifikasi produk mereka sesuai permintaan ataupun persepsi konsumen, tapi ternyata produk ini juga tidak lebih baik dari produk yang terdahulu karena konsumen memeliki persepsi yang salah. Oleh sebab itu perusahaan harus memiliki pengetahuan yang baik sehingga dapat mengambil keputusan dan tindakan terhadap lingkungan yang benar .
            Masalah ketiga adalah peraturan pemerintah yang didisain guna memberikan peluang kepada konsumen untuk membuat keputusan yang lebih baik, atau memotivasi mereka untuk lebih bertanggungjawab terhadap lingkungan hidup. Sangat sulit bagi perusahaan untuk dapat menyesuaikan dengan seluruh isu lingkungan. Oleh karena itu sebaiknya pemerintah mengembangkan aturan dan petunjuk yang jelas.
            Bereaksi berdasarkan tindakan kompetitor dapat menyebabkan follower membuat kesalahan yang sama dengan first mover. Oleh karena itu perusahaan yang mengikuti langkah kompetitor harus lebih cermat dalam bereaksi terhadap tindakan kompetitornya.
H.    KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Green Marketing merupakan sebuah konsep yang perlu diperhatikan oleh perusahaan dalam memasarkan produknya, hal ini dikarenakan semakin meningkatnya kesadaran konsumen akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan. Sebuah perusahaan dalam memasarkan produknya pada saat ini harus mulai berorientasi pada pemasaran yang ramah lingkungan yang dimulai dari pembuatan perencanaan strategis.
Dengan memasukan unsur kepedulian terhadap lingkungan secara terintegrasi dalam setiap perencanaan strategisnya, perusahaan akan mampu menjadikan hal tersebut sebagai salah satu sumber Sustainable Competitive Advantage yang bisa digunakan untuk memenangkan persaingan. Implikasi lain bagi perusahaan adalah,  perusahaan bisa memilih salah satu diantara dua pendekatan dalam green marketing yaitu pendekatan defensive atau pendekatan assertif.
Dalam penerapan green marketing, terdapat potensi terjadinya masalah yang berasal dari: pertama kemungkinan terjadinya pelanggaran terhadap aturan yanga ada dalam penerapan green marketing,  ke dua produk yang di modifikasi ternyata tidak mampu memberikan nilai tambah bagi konsumen, sehingga konsumen tetap menganggap tidak ada perubahan yang signifikan pada produk yang dihasilkan. Kemampuan perusahaan menyesuaikan diri dengan perubahan peraturan dan keinginan konsumen menjadi masalah ke tiga, terakhir jika perusahaan tidak berhati-hati menghadapi reaksi pesaing dalam penerapan green marketing, akan menyebabkan terjadinya kesalahan pengambilan keputusan.
2.  Saran
 Jika perusahaan ingin mendapatkan sebuah keunggulan yang mampu membuatnya berbeda dari pesaing dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan, perusahaan sebaiknya lebih memilih pendekatan assertif yang mampu menciptakan image positif bagi perusahaan.
Dalam penerapan konsep green marketing, perusahaan akan mengalami beberapa kendala, oleh karena itu perusahaan harus mampu mengantisipasinya dengan beberapa cara seperti dengan memberikan pendidikan dan membangun komunikasi yang baik dengan setiap stakeholder yang terlibat. Kedekatan dengan pelanggan harus dijaga dengan baik, agar apa yang dilakukan oleh perusahaan, bisa diterima oleh pelanggan dan memberikan efek positif terhadap kinerja pemasaran perusahaan.
DAFTAR BACAAN           
Karna, Jari. Eric Hansen and Heikki  Juslin.2003. Social Responsibility in Environmental Marketing Planning. European Journal of Marketing.Vol 37 No.5/6. p. 848-871
Prakash, Aseem. 2002. Green Marketing, Public Policy and Managerial Strategies.  Journal  of  Business  Strategy  and  The Environment.Vol 11 P. 285-297.
Polonsky, Michael Jay. 1994.  An Introduction To Green Marketing. Electronic Green Journal .Vol 1 issue 2.

Mc.Daniel, Stephen W. Rylander, David H. 1993. Strategic Green Marketing. Journal of Consumer Marketing Vol 10 No 3 p.4-10




2 komentar:

  1. Thank bgt mas abror buat tulisannya,, bener-bener bagus.
    kebetulan saya juga sedang ada penelitian soal green marketing.
    kalau ga keberatan boleh saya minta alamat email mas, saya mau diskusi.

    hatur nuhun..

    email saya :
    nopriandi_red@yahoo.co.id

    BalasHapus
  2. makasi pak atas artikelnya bermanfaat sekali saya jadi tahu tentang green marketing, pas juga saya akan menghadapi ujian manajemen pemasaran berkaitan dg green marketing.

    BalasHapus