Sabtu, 29 Januari 2011

KARAKTERISTIK JIWA KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA FIS UNP

 

 

Abror


Abstract
The aims of this study are to identify and meassuring some Entrepreneurship characteristics of  FIS UNP students. This study used 98 respondents from four department in FIS UNP. This Research identified 14  entrepreneurship characteristics and have found only 11 entrepreneurship characteristics strongly related to FIS UNP students.

Keyword: Entrepreneurship, Innovative, Creative,
         Characteristics, FIS UNP

PENDAHULUAN


       Persaingan pada dunia kerja semakin ketat saat ini, pada saat ini muncul suatu ide yang mengarahkan para lulusan perguruan tinggi agar memiliki jiwa kewirausahaan. Dengan adanya jiwa kewirausahaan  pada lulusan perguruan tinggi, diharapkan bisa menjawab tantangan dan mampu mengarahkan mahasiswa  agar tidak hanya mencari pekerjaan tetapi lebih kearah menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional  juga mengakomodir masalah ini dengan meluncurkan suatu program yaitu program pengembangan jiwa kewirausahaan di perguruan tinggi. Program ini bertujuan untuk: (a) Menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan di dalam lingkungan perguruan tinggi serta untuk mendorong terciptanya wirausahawan baru, (b) Mendorong pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan menjadi perangkat yang dapat digunakan masyarakat dan bernilai komersial, (c) Mewujudkan sinergi potensi perguruan tinggi dengan potensi industri/usaha kecil menengah sehingga  dapat menumbuhkan industri-industri kecil dan menengah yang mandiri, (d) Meningkatkan peluang   keberhasilan wirausaha baru melalui kegiatan pelayanan konsultasi terpadu, (e) Mendorong akselerasi pemulihan ekonomi Indonesia melalui penanggulangn kemiskinan dan penyediaan lapangan kerja dengan tumbuhnya wirausaha baru yang kuat, baik dari segi kualitas barang produksi dan  jasa maupun dari pemasarannya, (f) Menumbuhkan kegiatan-kegiatan yang mendorong terwujudnya income generating unit di perguruan tinggi Indonesia dalam mengantisipasi otonomi perguruan tinggi (Dirjend Dikti, 2003).
Menumbuhkan jiwa kewirausahaan  bukanlah hal yang mudah, karena jiwa ini tidak akan muncul  hanya dengan memberikan pengetahuan tentang kewirausahaan, tetapi juga berasal dari dalam diri masing-masing mahasiswa yang sudah dibawa sejak lahir serta mencoba menerapkannya di lapangan. Agar usaha ini berhasil perlu dilakukan indentifikasi awal terhadap jiwa kewirausahaan mahasiswa yang ada, agar pengembangan ke depan bisa  tepat sasaran.
Kondisi riil yang terjadi,  terdapat indikasi kegiatan pengembangan jiwa kewirausahaan yang dilakukan belum berjalan sebagaimana mestinya atau tidak dapat memunculkan akselerasi yang cukup dalam memunculkan jiwa kewirausahaan mahasiswa. Setelah mahasiswa mendapatkan program pengembangan jiwa kewirausahaan, ternyata belum mampu menumbuhkan jiwa tersebut secara kuat. Kewirausahaan  diharapkan nanti wujud dalam bentuk usaha riil dalam membuka usaha-usaha baru  atau lapangan kerja baru. Sebagian besar mahasiswa masih terfokus mencari pekerjaan atau menjadi guru dan pegawai negeri
Untuk menilai jiwa kewirausahaan yang dimiliki oleh mahasiswa, bisa dilakukan dengan memperhatikan karakteristik  yang harus dimiliki oleh seorang yang memiliki jiwa kewirausahaan yang kuat. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian awal terhadap jiwa kewirausahaan yang dimiliki mahasiswa, sebelum dilakukan  upaya pengembangan.
Hal inilah yang menjadi latar belakang diangkatkannya penelitian ini, agar bisa mengetahui  kondisi awal mahasiswa yang akan menjadi input dalam proses pengembangan jiwa kewirausahaan.Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah karakteristik jiwa kewirausahaan apasajakah yang dimiliki oleh mahasiswa FIS Universitas Negeri Padang serta bagaimanakah  penilaian terhadap jiwa kewirausahaan mahasiswa FIS  Universitas Negeri Padang.

Kewirausahaan menurut Zimmerer dalam Suryana (2000) adalah:”Entrepreneur is the result of a disciplined, systematic process of applying creativity and innovations to need and opportunities in the market place”.  Kewirausahaan merupakan hasil dari suatu disiplin, proses yang sistematis penerapan suatu kreatifitas dan inovasi  dalam memenuhi kebutuhan serta memperoleh peluang pasar.
Pendapat ahli  tentang kewirausahaan  mengalami perkembangan yang cukup pesat. Cunningham dalam Koh (1996) telah ditemukan enam mazhab (schools of thought) jiwa kewirausahaan yaitu:
a). The Great Person School: mazhab ini menyatakan bahwa seorang wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang dilahirkan dengan intuisi, energi, persisten dan kepercayaan diri yang tinggi .
b). The Classical School: Mazhab ini menilai seorang wirausahawan dari sisi inovasi kreativitas dan penemuan.
c). The Management School: Seorang wirausahawan adalah orang yang mampu mengorganisir, memiliki dan memanajemeni serta mengasumsikan sejumlah risiko.
d). The Leadership School: seorang wirausahawan adalah orang yang mampu memotivasi, mengarahkan dan memimpin.
e). The Intrapreneurship School: Mazhab ini berfokus pada manajer yang memiliki keahlian yang cukup dalam mengelola organisasi yang kompleks.
f). The Psychological Characteristics School: Mazhab ini menyatakan bahwa seorang wirausahawan adalah orang memiliki nilai, sikap dan kebutuhan  yang unik, yang membuatnya berbeda dengan non wirausahawan.
Kewirausahaan memiliki karakteristik-karakteristik tertentu, ini sesuai dengan  pemahaman mazhab  The Psychological Characteristics.  Seperti yang diungkapkan Meredith (1996) kewirausahaan memiliki ciri-ciri antara lain, percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil, pengambilan resiko, kepemimpinan, keorisinilan dan berorientasi masa depan. Kemudian menurut Zimmerer dalam Suryana (2000) ciri/karakteristik kewirausahaan itu ada delapan yaitu: (1) Desire for Resposibility, (2) Preference for moderate risk, (3) Confidence in their ability to success, (4) Desire for immediate feedback, (5) Future Orientation, (6) High level of energy, (7) Skill at organizing, (8) Value of achievment over money.
Penelitian tentang  jiwa kewirausahaan pada mahasiswa telah dilakukan di  berbagai perguruan tinggi. Penelitian yang berfokus pada karakteristik jiwa kewirausahaan  ini juga telah dilakukan sebelumnya oleh Koh (1996) yang ditujukan kepada mahasiswa MBA di Hongkong,  temuan dari penelitian tersebut , didapatkan  bahwa ada  enam karakteristik yang berpengaruh secara signifikan terhadap jiwa kewirausahaan. Karakteristik tersebut meliputi kebutuhan untuk berprestasi, locus of control/berorientasi pada tugas dan hasil,  mau mengambil risiko,  bertoleransi terhadap ketidak pastian, percaya diri dan inovatif. Penelitian lain yang dilakukan oleh Hansemark (1998) juga menemukan jiwa kewirausahaan itu dapat diukur dengan locus of control dan kebutuhan berprestasi, penelitian ini dilakukan untuk mengukur efektifitas suatu pendidikan kewirausahaan. Galloway dan Brown (2002) menggunakan karakteristik ambisi dan motivasi sebagai alat ukur jiwa kewirausahaan pada Strathclyde University.

 

METODE PENELITIAN


Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang berusaha menggambarkan fenomena yang terjadi. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel  adalah penilaian jiwa kewirausahan dan karakteristik kewirausahaan. Penilaian jiwa kewirausahaan dilakukan berdasarkan kondisi riil responden yaitu  berdasarkan kuat lemahnya karakteristik yang dimiliki. Karakteristik ini merupakan gabungan dari berbagai karakteristik yang dikemukakan oleh berbagai ahli seperti yang terlihat pada  model  berikut:

                     Model Penelitian
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh mahasiswa FIS UNP yang terdaftar di Semester Ganjil 2003/2004 minimal telah berada di tahun ketiga atau angkatan 2001 keatas. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Sampel  dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan ekonomi sebanyak 40 orang, jurusan Geografi sebanyak 20 orang, dan jurusan PPKn/Hukum sebanyak 20 orang serta jurusan Sejarah sebanyak 20 orang sehingga totalnya adalah  100 orang, penentuan  jumlah sampel didasarkan pada pendapat Hair (1998) yaitu 5 - 20 kali banyaknya variabel dalam penelitian. Jurusan Ekonomi mendapat proporsi yang lebih besar karena memiliki populasi juga paling banyak dibandingkan 3 jurusan lainnya.
Analisis data akan dilakukan dengan analisis deskriptif  dengan menggunakan  nilai rata-rata, modus, serta melakukan interpretasi  berdasarkan teori yang  relevan. Semakin banyak responden yang menjawab sangat setuju maka semakin tinggi pula penilaian terhadap jiwa kewirausahaan yang dimiliki.
     Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan karakteristik jiwa kewirausahaan  adalah karakteristik atau ciri-ciri kewirausahaan yang dimiliki oleh mahasiswa FIS UNP yang terdiri dari: Kebutuhan berprestasi yang tinggi, percaya diri , berorientasi pada tugas dan hasil/locus of control, menyukai risiko yang moderat, inovatif, kreatif , kepemimpinan, berorientasi masa depan, bertanggung jawab, berambisi, memerlukan umpan balik yang cepat, energik/ memiliki daya juang yang tinggi, memiliki dorongan/motivasi untuk unggul, belajar dari kesalahan/kegagalan. Dan yang dimaksud dengan penilaian jiwa kewirausahaan adalah penilaian yang dilakukan berdasarkan jawaban responden tentang karakteristik kewirausahaan yang dimiliki.
            Kebutuhan berprestasi yang tinggi adalah kebutuhan berprestasi yang dimiliki oleh mahasiswa FIS. Percaya diri adalah  sikap mahasiswa dalam melakukan usaha. Berorientasi pada tugas dan hasil/locus of control, adalah orientasi mahasiswa dalam melakukan tugas. Menyukai risiko yang moderat adalah sifat mahasiswa yang mau menanggung risiko yang sudah diperhitungkan.
Inovatif merupakan sifat responden yang mampu memunculkan hal-hal yang baru. Kreatif merupakan jawaban responden tentang kegiatan yang dilakukan. Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan untuk mengarahkan orang lain melakukan suatu pekerjaan. berorientasi masa depan, bertanggung jawab, berambisi, memerlukan umpan balik yang cepat, energik/ memiliki daya juang yang tinggi, memiliki dorongan/motivasi untuk unggul, dan belajar dari kesalahan/kegagalan.

TEMUAN DAN PEMBAHASAN

Temuan
Penelitian ini menggunakan 100 orang responden , namun yang memenuhi syarat untuk dimasukan dalam pengolahan data hanya 98 responden. Responden  yang diambil terdiri dari 40 orang mahasiswa jurusan Ekonomi, 20 orang jurusan Ilmu Hukum/PPKN, 20 orang jurusan Sejarah dan 18 orang jurusan Geografi. Berdasarkan jenis kelamin responden yang diambil terdiri dari 25 orang laki-laki dan 73 orang perempuan.
Jika dilihat profil responden lebih lanjut rata-rata adalah mahasiswa angkatan 2001 sebanyak 71%, kemudian diikuti oleh angkatan 2000 sebanyak 17%. Berdasarkan umur, responden dalam penelitian ini 41,8% berumur 20 tahun dan 26% berumur 21 tahun. Jika ditinjau dari rata-rata IPK responden, ternyata 57,1% memiliki IPK antara 2,6 -3,0 dan diikuti oleh IPK antara 3,1 – 3,5 sebanyak 27,6%.
 Penilaian berdasarkan  14 karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha terlihat bahwa untuk karakteristik pertama yaitu memiliki kebutuhan berprestasi yang tinggi, responden sebagian besar menjawab sangat setuju yaitu sebesar 71,4 % dan 27,6% menjawab setuju.Karakteristik yang kedua adalah memiliki rasa percaya diri yang tinggi, para responden hanya 10,2% yang menjawab sangat setuju dan 39,8% menjawab setuju, sedangkan 45,6% menjawab netral/ragu-ragu. Karakteristik yang ke tiga adalah berorientasi pada tugas dan hasil/ Locus control, responden  48% menjawab setuju dan 38,8% menjawab sangat setuju untuk pernyataan ini
Karakteristik ke empat, seorang wirausaha juga harus menyukai risiko yang moderat, responden dalam penelitian ini 39,8% menjawab setuju bahwa  mereka menyukai risiko yang moderat dan hanya 10,2% yang menjawab sangat setuju sedangkan 33,7% menjawab ragu-ragu/netral, serta 13,3% menjawab tidak setuju. Karakteristik ke lima adalah mampu menciptakan ide-ide yang inovatif, jawaban responden menunjukan 43,9% menjawab sangat setuju, 12,2% menjawab sangat setuju serta 41,8% menjawab netral/ragu-ragu.
Kesukaan untuk mencoba cara-cara baru/kreatif  merupakan karakteristik ke enam bagi  seorang wirausaha, berdasarkan jawaban responden  ternyata 60,2% menjawab setuju dan 18,4% menjawab sangat setuju, hanya 21,4% menjawab netral. Seorang wirausaha  harus mampu mengarahkan orang lain untuk melakukan pekerjaan/ kepemimpinan dan  ini merupakan karakteristik ke tujuh, ternyata berdasarkan jawaban responden 50% menyatakan setuju dan 12,2% menyatakan sangat setuju, sedangkan 33,7% menyatakan netral/ragu-ragu.
Berorientasi ke masa depan merupakan karakteristik ke delapan dari seorang wirausaha, dari jawaban responden 55,1% menjawab sangat setuju dan 37,8% menjawab setuju. Karakteristik ke sembilan adalah bahwa seorang wirausaha juga harus memiliki tanggung jawab yang tinggi, jawaban responden menunjukan 49% menyatakan sangat setuju, 44,9% menjawab setuju.
Karakteristik ke sepuluh, seorang wirausaha harus memiliki ambisi yang kuat untuk melakukan pekerjaan, jawaban responden menunjukan 55,1% menyatakan setuju dan 31,6% menyatakan sangat setuju. Selalu memerlukan umpan balik yang cepat merupakan karakteristik ke sebelas, jawaban responden menunjukan 49% setuju, 24,5% sangat setuju dan 21,4%  menjawab netral/ragu-ragu.
Memiliki daya juang yang tinggi/energik merupakan karakteristik ke dua belas, jawaban responden untuk karakteristik ini memperlihatkan 57,1% menjawab setuju dan 23,5% menjawab sangat setuju serta 19,4% menjawab netral/ragu-ragu. Karakteristik ke tiga belas adalah memiliki motivasi yang kuat untuk berhasil, jawaban responden menunjukan 48% menjawab setuju dan 39,8% menjawab sangat setuju. Karakteristik terakhir dalam penelitian ini adalah selalu mau belajar dari kesalahan yang dilakukan, berdasarkan karakteristik ini responden 67,3% menjawab sangat setuju dan 28,8% menjawab setuju .
Dari 98 orang responden dalam penelitian ini ternyata 16 orang  sudah pernah mengikuti program kewirausahaan di UNP. Kegiatan yang mereka ikuti rata-rata adalah kuliah kewirausahaan dan mata kuliah kewirausahaan untuk mahasiswa jurusan ekonomi. Berdasarkan pertanyaan lanjutan tentang program yang mereka ikuti, ternyata 11 orang menilai program kewirausahaan yang dilakukan oleh UNP belum berjalan secara baik, 4 orang menyatakan tidak tahu dan hanya satu orang yang sudah menilai baik.
Ada beberapa alasan yang diberikan bagi yang menjawab belum berjalan secara baik seperti, kurangnya orientasi lapangan, lebih banyak teori, masih banyaknya lulusan yang belum mampu menciptakan lapangan kerja, kurangnya tindak lanjut setelah program dijalankan. Setelah tamat rata-rata mahasiswa masih menjawab ingin mencari kerja yaitu sebanyak 73 orang dan hanya 12 orang yang menjawab akan berwirausaha.
Berdasarkan pertanyaan tindakan apa yang harus dilakukan oleh UNP ke depan, jawaban cukup beragam, seperti mengoptimalkan program kewirausahaan yang ada dan diikuti dengan praktek lapangan, menjalin kerjasama dengan dunia usaha/dunia industri, membantu mahasiswa/ lulusan dalam membuka usaha baru, baik berupa bantuan motivasi, pelatihan maupun dana, serta tetap memantau lulusannya yang belum mendapat pekerjaan.

Pembahasan
            Berdasarkan temuan diatas,  terlihat  untuk beberapa karakteristik ternyata sudah dimiliki secara lebih baik oleh responden dalam penelitian ini, seperti kebutuhan berprestasi yang tinggi. Hal ini menunjukan bahwa responden adalah orang-orang yang ingin berprestasi, ini sesuai dengan temuan Koh (1996) yang menyatakan salah satu karakteristik dari wirausaha adalah memiliki kebutuhan berprestasi yang tinggi.
Karakteristik berorientasi pada tugas dan hasil/locus control dinilai telah dimiliki oleh mahasiswa FIS UNP. Penelitian yang dilakukan oleh Hansemark (1998)  menemukan locus control dan kebutuhan berprestasi sebagai karakteristik kewirausahaan. Karakteristik suka mencoba cara-cara baru/ kreatif juga terlihat sudah dimiliki oleh responden.Hasil ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya  oleh Koh (1996), Meredith (1996) dan Zimmerer yang menemukan bahwa seorang wirausaha harus memiliki sifat kreatif yang ditunjukan dengan menyukai cara-cara baru.
      Karakteristik berikutnya adalah mampu mengarahkan orang lain untuk melakukan pekerjaan, responden dinilai cukup memiliki karakteristik ini. Meskipun demikian masih ada  yang ragu dengan kemampuan mereka untuk mengarahkan orang lain.Seorang wirausaha harus berorientasi ke masa depan, berdasarkan karakteristik ini, responden dinilai sudah berorientasi ke masa depan.    Karakteristik mempunyai ambisi yang kuat untuk melakukan pekerjaan ternyata juga sudah cukup dimiliki. Wirausaha juga dituntut harus memiliki karakteristik memerlukan umpan balik yang cepat atas pekerjaan yang dilakukan, responden dalam penelitian ini dinilai sudah memiliki sifat tersebut. Karakteristik memiliki ambisi yang kuat dan memerlukan umpan balik akan sangat dibutuhkan oleh seorang wirausaha ketika menghadapi sebuah peluang dan menyikapi tantangan yang muncul.
      Seorang wirausaha juga harus memiliki daya juang yang tinggi, karena dalam menghadapi kondisi persaingan dibutuhkan semangat dan daya juang yang tinggi serta tidak mudah putus asa. Seorang wirausaha juga harus memiliki motivasi yang kuat untuk berhasil. Berdasarkan temuan dinilai mahasiswa FIS Unp sudah memilikinya. Karakteristik selalu belajar dari kesalahan yang dilakukan juga dinilai telah dimiliki oleh mahasiswa.  Galloway dan Brown (2002) juga menemukan bahwa faktor motivasi dan ambisi merupakan karakteristik dari jiwa kewirausahaan.
Beberapa karakteristik lain belum lagi dimiliki secara utuh oleh mahasiswa FIS UNP. Hal ini terlihat pada karakteristik seorang wirausaha haruslah sangat percaya diri, ternyata sebagian mahasiswa  masih ragu  dengan kondisi mereka dan hanya sedikit  yang sangat yakin dengan kepercayaan diri mereka. Berdasarkan temuan Koh (1996), Meredith (1996) dan Zimmerer dalam Suryana (2000),  seorang wirausaha harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi, karena untuk memulai melakukan suatu usaha dibutuhkan kepercayaan diri yang tinggi.
Kepercayaaan diri akan memberi keyakinan kepada wirausaha untuk memulai usahanya sekaligus bisa berguna untuk meyakinkan orang lain. Kurangnya kepercayaan diri responden berkemungkinan disebabkan oleh belum adanya praktek lapangan yang dilakukan, sehingga responden cenderung takut gagal.
 Karakteristik inovatif juga memperlihatkan tingkat keraguan yang cukup tinggi, hal ini berarti masih banyak responden belum yakin dengan kemampuannya untukmenciptakan ide-ide yang inovatif. Hal ini juga berkaitan dengan kepercayaan diri dan keberanian untuk mencoba ide-ide baru. Meskipun responden punya pengetahuan yang cukup namun belum pernah menerapkannya dalam usaha riil, bisa menyebabkan responden tidak dapat memikirkan ide-ide baru untuk pengembangan usaha.
      Seorang wirausaha juga harus menyukai risiko yang moderat, temuan menunjukan mahasiswa kurang menyukai risiko moderat. Memang sebagian besar orang lebih suka menghindari risiko, namun  seorang wirausaha harus menyukai risiko yang moderat, hal ini juga ditemukan dalam penelitian Koh (1996).
      Kondisi-kondisi diatas memperlihatkan bahwa ke empat belas karakteristik kewirausahaan telah dimiliki oleh responden, namun ada beberapa karakteristik yang belum cukup kuat dimiliki, yaitu berupa kepercayaan diri yang tinggi dan kemampuan mengambil risiko yang moderat serta kemampuan menciptakan ide-ide yang inovatif. Ini diperlihatkan dengan masih banyaknya responden yang menjawab netral/ragu-ragu dengan kemampuan mereka untuk tiga karakteristik tersebut.
      Kondisi diatas diperkuat dengan jawaban pertanyaan lanjutan tentang rencana responden setelah tamat, ternyata sebagian besar masih ingin mencari pekerjaan , hanya 25 orang responden yang  ingin berwirausaha. Agar kondisi ini bisa diatasi perlu dilakukan pembinaan-pembinaan untuk meningkatkan kepercayaan diri, berani mengambil risiko yang moderat dan memunculkan ide-ide yang inovatif tanpa mengabaikan karakteristik lain. Kegiatan yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan-pelatihan yang lebih intensif tetapi harus diikuti dengan praktek lapangan seperti magang, ataupun diminta membuka usaha sendiri.
Dari hasil tabulasi silang dapat disimpulkan bahwa antara laki-laki dan perempuan dalam penelitian ini tidak ada perbedaan yang signifikan dalam jiwa kewirausahaan. Berdasarkan jurusan ternyata untuk  karakteristik memiliki kebutuhan berprestasi yang tinggi, paling besar dimiliki oleh jurusan geografi dan kemudian diikuti oleh ilmu hukum.
Jawaban ragu-ragu yang terbesar untuk karakteristik menyukai risiko yang moderat juga dimiliki oleh jurusan geografi yang kemudian diikuti oleh jurusan ilmu hukum. Sedangkan  untuk karakteristik inovatif, paling banyak yang menjawab ragu-ragu adalah jurusan ekonomi yang kemudian diikuti oleh jurusan sejarah. Hal diatas menunjukan rata-rata setiap jurusan lemah dalam tiga karakteristik diatas yaitu karakteristik percaya diri, menyukai risiko yang moderat dan inovatif, meskipun memiliki kebutuhan berprestasi yang cukup tinggi.

Ekplorasi lebih lanjut, ternyata dari 98 responden  ada 16 responden yang telah mengikuti program kewirausahaan yang dilakukan oleh UNP, kegiatan itu berupa Kuliah Kewirausahaan dan bagi mahasiswa ekonomi di tambah dengan mata kuliah kewirausahaan. Penilaian dari 16 responden tersebut, 11 orang menyatakan bahwa program kewirausahaan yang dilakukan UNP belum berjalan secara baik karena terputus hanya pada pemberian materi, sedangkan praktek lapangan masih kurang. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab mengapa mereka tidak berani untuk membuka usaha sendiri.
                                                                               
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
                  Dari penelitian ini dapat diambil beberapa temuan pokok yaitu, 14 karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha, telah dimiliki oleh responden, meskipun masih ada beberapa karakteristik yang belum dimiliki secara cukup. Karakteristik tersebut adalah kepercayaan diri , kemampuan menciptakan ide-ide yang inovatif, kemauan mengambil risiko yang moderat.
Berdasarkan kondisi diatas dapat pula disimpulkan bahwa karakteristik jiwa kewirausahaan telah dimiliki oleh responden namun masih ada  beberapa karakteristik yang dinilai belum cukup kuat dimiliki oleh responden. Temuan lain  patut diduga bahwa program kewirausahaan di UNP belum berjalan sebagaimana mestinya, hal ini ditunjukan  oleh jawaban 16 orang responden yang telah pernah mengikuti program kewirausahaan. Sebanyak 11 orang responden menjawab program kewirausahaan yang dilakukan UNP belum berjalan sebagaimana mestinya.
Meskipun demikian ini perlu pembuktian lebih lanjut, karena jumlah responden yang diambil masih sangat kecil dan belum tentu mewakili populasi yang pernah mengikuti program kewirausahaan di UNP. Berdasarkan jawaban responden  tersebut, penyebab program ini belum berjalan sebagaimana mestinya adalah karena program yang dilakukan cendrung tidak berkelanjutan, atau setelah  diberi pelatihan , tidak ada kegiatan selanjutnya seperti magang untuk mengasah pengetahuan yang diterima.

 Saran
            Berdasarkan temuan-temuan  di atas, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa dalam  berusaha. Hal ini bisa dilakukan dengan memberi kesempatan pada mahasiswa untuk mencoba membuka suatu usaha baru, atau memberi kesempatan magang pada berbagai perusahaan yang relevan. UNP disarankan  untuk melakukan evaluasi terhadap program kewirausahaan yang sudah ada saat ini.  Upaya yang dilakukan  terhadap temuan-temuan harus diseimbangkan dengan upaya untuk mempertahankan karakteristik yang sudah cukup baik secara terpadu.
            Setiap jurusan pada FIS UNP harus mampu mendorong jiwa kewirausahaan yang dimiliki mahasiswanya agar nanti mampu melahirkan wirausaha-wirausaha baru yang tangguh, hal ini bisa difokuskan pada karakteristik yang masih lemah tetapi tetap memperhatikan pengembangan karakteristik lain yang sudah cukup kuat.

DAFTAR PUSTAKA


Galloway, Laura . Brown, Wendy. 2002. Entrepreneurship Education at University: A Driver In The Creation of High Growth Firms?, Journal Of Education and Training, Vol 44 No.8/9 p.398-405

Hair, JF,Jr, Anderson,RE, Tatham, R.L and Black, W.C .1998. Multivariate Data
Analysis, 5th ed, Pren-Hall Inc, Upper Saddle River

Hansemark, Ova. C. 1998. The Effects of an Entrepreneurship Programme on Need for Achievement and Locus of Control of Reinforcement, International Journal of Entrepreneural Behavior & Research, Vol 4  No. 1 p.28-50.

Koh, H.C. 1996. Testing Hypothesis of Entrepreneural Characteristics, Journal of Managerial Psychology, Vol..11 No. 3, p.12-25

Meredith, G. Geoffrey. 1996. Kewirausahaan:Teori dan Praktek, Jakarta, Pustaka Binaman Presindo

Santoso, Singgih.2002. SPSS Statistik Multivariat.Jakarta. Elex Media Komputindo

Sekaran, Uma.2000. Research Methods for Business A Skill Building Approach.Third Edition. New York. Jhon Willey&Sons

Suryana. 2000. Kewirausahaan, Jakarta, Salemba Empat


    
             

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar